
Setelah usai pengajian, Ibu Nani disalami banyak ibu-ibu sembari mengucapkan selamat. Memang, dua hari yang lalu Ibu Nani resmi menjadi seorang nenek. Anak sulungnya telah melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. “Cucu ke berapa, Bu?” tanya Ibu Ros. “Ini cucu pertama, Bu” jawab Ibu Nani. Obrolan itu pun berlanjut. Semakin seru tampaknya. Semakin banyak pula ibu-ibu yang ikut obrolan nenek-nenek itu. Ibu Nani sempat mengutarakan perasaannya menjadi ‘nenek baru’. Senangnya tak terkira, semakin sibuk pula. Ia pun bertanya pada teman-temannya, “Bagaimana ya menjadi nenek yang baik itu? Saya ingin menjadikan masa tua ini lebih indah.”
Ibu Ros, yang kebetulan sudah dianugerahi lima orang cucu, angkat bicara. Semuanya tampak serius mendengarkan penjelasan Ibu Ros. Ibu Ros bilang, memang tak mudah berperan sebagai seorang nenek. Ada di antara kita yang sudah siap, ada pula yang tidak. Kita semua berharap menjalani hari tua dengan nyaman, tenteram. Ingin rasanya beristirahat panjang setelah mengantarkan anak-anak ke gerbang masa depannya. Kemudian, menjalani hari-hari tua dengan lapang, tenang, dan bahagia.
Pertama, tetaplah menjaga kesehatan. Kesehatan yang diberikan sedari muda harus dijaga baik-baik. Kalau pun harus sakit, itu hanya penyakit ketuaan yang memang alami, yang tak bisa ditolak siapa pun. Namun, kemajuan ilmu sekarang memungkinkan untuk penyakit menua itu tidak cepat memburuk. Sedari muda harus dipersiapkan. Misalnya, dengan hidup teratur, cukup tidur, menu harian yang bergizi, dan lain sebagainya.
Ibu Ros juga mengajak teman-temannya untuk selalu berpikir positif, tidak memelihara perasaan dengki, iri hati, benci, dan hal-hal negatif lainnya. Dengan begitu, anak cucu, saudara-saudara, dan kerabat akan mengenang nilai-nilai kebaikan itu dan merindukan keberadaan kita. Nenek juga bisa jadi partner yang ideal untuk mendidik anak-anak. Toh, sudah terbukti hasilnya dengan membesarkan dan mendidik anak-anaknya, lebih pengalaman pula.
Meskipun sudah tak muda lagi, pengetahuan dan wawasan tetap menjadi hal penting. Nenek yang pintar membikin cucunya bangga dan memotivasinya untuk berwawasan pula. Pengetahun dan wawasan tersebut dapat menjadi bekal dan bermanfaat. Dapat pula membantu kita menjalankan peran sebagai istri, ibu, dan nenek. Pendidikan ini juga menentukan derajat kesehatan. Perempuan yang lebih menguasai pengetahuan tentang hidup sehat, akan lebih sehat secara fisik maupun psikologis.
Ibu Ros mengaku, salah satu alasannya mengikuti pengajian ini adalah untuk menciptakan kesibukan. Tak sedikit yang bosan dalam menjalani hari tuanya. Untuk itu, kita memerlukan sesuattu yang baru, yang menyenangkan hati, dan menambah gairah hidup setiap hari. Tak harus di rumah saja, tak ada kegiatan, tak ada jadwal kesibukan. Seorang nenek juga perlu kegiatan yang bervariasi untuk melihat dunia luar. Selain ikut pengajian, mungkin juga ikut kegiatan sosial sehingga kita merasa berguna bagi orang lain, diterima oleh orang lain, dan juga dapat bersosialisasi.
Nenek yang ideal di mata keluarga adalah nenek yang pandai membawakan diri jika hidup bercampur dengan keluarga anak menantu. Tak lagi mendominasi seperti ketika masih menjadi istri dan ibu. Mungkin saja, membikin menantu tidak enak. Nenek yang tulus menjalani hidup masa tuanya tanpa mau mengganggu siapa pun, misalnya tidak sakit. Makanya, kita perlu berpikir cerdas, menyiasati bagaimana seharusnya hidup sehat dan nyaman. Contohnya lagi, menjadi nenek yang arif dan bijaksana, serta menjadi penengah jika ada perselisihan antara anak-anak dan ayah ibunya. Bisa saja nenek memberikan wejangan yang positif sehingga hubungan mereka harmonis kembali.
Nenek adalah tempat mengadu cucu-cucunya untuk menceritakan aturan-aturan yang berlaku di rumah orangtuanya. Dari sudut pandang anak-anak, nenek merupakan sosok ideal yang memberikan kecintaan tanpa batas dan tanpa syarat pada mereka. Cucu-cucu biasanya akan merasa lebih nyaman jika berada di rumah neneknya. Peran nenek akan semakin berpengaruh jika banyak menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya.
Sesekali, tak ada salahnya pergi ke berjalan-jalan. Mencari suasana baru dan melupakan sejenak rutinitasn yang biasa kita lakukan. Misalnya, ke daerah pedesaan yang udaranya lebih segar, dan bersih, sesuai dengan paru-paru orang usia lanjut. Udara yang segar dan bersih juga kaya dengan kandungan oksigen dan menambah kebugaran sel-sel tubuh. (disarikan dari buku Cara Sehat Menjadi Perempuan/ Maghriza Novita Syahti)
*Padang Ekspres edisi Minggu, 8 Februari 2009, hal. Langkan

Melihat aku antusias sekali untuk menonton, Mama mengajukan syarat padaku. Syaratnya, harus mandi dulu sebelum menonton televisi. Kalau belum mandi, tak boleh nonton. Syarat itu sempat membuatku uring-uringan karena ketika itu aku malas sekali mandi. Aku setuju dengan syarat itu demi Satria Baja Hitam, jagoan berwujud belalang yang tampak keren dengan sepeda motornya. Setelah mandi, buru-buru aku menghidupkan televisi. Menunggu-nunggu Satria Baja Hitam itu beraksi. Aku meminta Papa membelikan album soundtrack film itu. Sekali kuminta, Papa tampak tak peduli. Mungkin, beliau pikir, tak ada gunanya kaset itu. Paling hanya keinginan sesaat. Kuminta lagi pada Papa. Papa malah bilang bahwa aku tak akan mendengarnya, hanya untuk koleksi saja. Jadi, menurut Papa tak ada gunanya dibeli. Hmmm, susah sekali ‘gencatan senjata’ untuk mendapatkan album soundtrack Satria Baja Hitam ini. Mau tak mau, rela tak rela, suka tak suka, aku terpaksa mengeluarkan jurus terjituku: menangis. Hohoho, tampaknya jurus ini berhasil, pemirsa! Sore itu juga, setelah menonton Satria Baja Hitam, Papa mengajakku ke toko kaset. Akhirnya, aku mendapatkannya. Ternyata kaset itu berbonus poster. Aku senang tak terkira. Aku menempel poster itu di kamar, tepat di atas kepalaku. Ini poster pertamaku. Ketika kutanya teman-temanku kapan mereka pertama kali menempel poster, mereka jawab ketika SMP. Hmm, tampaknya aku sudah curi start. Kebiasaanku setelah punya kaset itu adalah menyetel kaset itu dengan volume maksimal setiap sore, setelah menonton filmnya. Sempat membuat teman-temanku iri, loh! Hehehehe. Sayangnya, kini aku tak tahu kaset dan poster itu di mana. Kutelepon ia menanyakan keberadaannya, tak diangkatnya. (???) Oya, kini aku ingin soundtrack Satria Baja Hitam itu lagi.
Aku juga tak pernah absent menonton Power Rangers. Dulu, aku naksir Ranger Merah dan selalu bermimpi menjadi Ranger Pink. Hehehe. Selalu tertawa terkekeh-kekeh ketika Power Rangers berhasil melawan musuhnya yang bermacam bentuk itu. Menirukan gaya mereka ketika berubah menjadi Ranger. Mencemaskan mereka ketika melawan musuh sendirian dan merasa menang ketika mereka sudah menggabungkan kekuatan. Menonton Power Rangers membuatku terkena ’syndrome Alpha’. Syndrome Alpha mempunyai gejala:
Idola berikutnya adalah Doraemon. Kucing gendut yang mempunyai kantong ajaib itu tak pernah kulewatkan setiap hari Minggu pagi. Tapi, kini sudah jarang aku menontonnya. Hingga kini, Doraemon masih saja tayang di televisi dan ia tak bertambah besar sepertiku. Masih berteman dengan Nobita yang sepertinya ditakdirkan menjadi anak-anak sepanjang masa. Nobita yang masih saja malas mengerjakan PR dan selalu ingin menunjukkan pada Shizuka tentang alat baru Doraemon. Nobita yang masih sering dikerjai Giant dan Suneo. Hingga kini Doraemon masih menggunakan baling-baling bambu dan pintu ke mana saja. Aku ingin sekali punya alat-alat Doraemon itu. Paling tidak, aku punya tiga saja di antara yang banyak itu: pintu ke mana saja, baling-baling bambu, dan…kantong ajaib (berarti, aku bisa punya semuanya, kan? Haghaghag)

