^Katakan dengan Kata^

it’s the freedom of me

Mengunjungi Lokasi Bencana April 17, 2009

Diarsipkan di bawah: school news, sebuah catatan harian — OPie ... @ 6:41 am

Akhirnya, hari ini berkesempatan ke sana. Ini kali ketiga teman-teman Psikologi UNP ke lokasi bencana itu setelah Selasa dan Sabtu lalu. Pukul 9 pagi, aku dan tiga belas orang teman lainnya (2006, 2007, 2008) berangkat dari kampus menuju terminal Aur Kuning. Mencari bus ke Batusangkar yang berangkat cepat, tanpa menunggu. Mengkhawatirkan pelajar Sekolah Dasar (karena kami bertujuan ke SD di sana) itu pulang. Lagi-lagi anak-anak. Hehehe. Setelah minggu lalu berhadapan dengan balita di Posyandu Double Care, kini dengan anak SD. Sempat pula menunggu agak lima belas menit. Akhirnya, kami berangkat menuju Batusangkar. Perjalanan yang lebih kurang satu jam itu dimulai. Mini bus itu agak sesak. Dingin, polusi, membikin eneg. Kami diantar langsung ke Pasie Laweh, tempat lokasi bencana. Berhenti di depan SD 03 Pasie Laweh itu. Sesampai di sana, anak-anak SD itu sedang beristirahat. Berlari ke sana kemari. Bermain bermacam-macam. Berlari pula ke luar pekarangan sekolah. Jajan. Aku dan teman-teman menunggu di ruang guru. Berbincang-bincang dengan Kepala Sekolah, Bapak Nusyirwan, dan beberapa orang guru sembari mempersiapkan segala sesuatunya. Di sekolah dasar ini, sebagai mahasiswa psikologi, kami hanya memberikan games-games kepada mereka agar (setidaknya) terobati trauma-trauma dan rasa takut mereka. Aku bersama Wiwit mendapatkan tugas di kelas dua. Kami pun sudah siap dengan beberapa permainan, seperti bola, kertas, pensil, penghapus, tali, balon, dan lain sebagainya. Seperti biasa, kami pun memperkenalkan diri dan mengisi waktu untuk mencairkan suasana. Dua puluh delapan anak yang duduk di kelas dua itu; 9 laki-laki dan 19 perempuan. Perbedaan yang mencolok sekali. Yang laki-laki memang tampak lebih conform, tetapi cukup destruktif. Sedangkan yang perempuan, lebih adem-ayem, mengangguk dan menggeleng saja. Sempat terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tekolah) di sana. Hehheheehe. Untungnya bisa diatasi. Kami menggambar, menyanyi, dan melipat kertas. Ketika kami membagikan kertas untuk menggambar, mereka tampak tak sabar ingin menorehkan coretan pensil mereka di sana. Bermacam-macam digambarnya. Tetapi, seperti biasa, gambar favorit mereka adalah dua gunung dengan matahari di sela-selanya. Lalu, ada jalan panjang lurus atau pun berbelok. Rumah kecil dan kolam. Ada pula yang menggambar gunting karena ada gunting di atas mejanya. Yang agak berbeda, ada yang menggambar roket, kelinci, dan kapal. Bagus, meskipun hanya menggunakan pensil, tanpa warna. Aku bangga dengan keberanian dan percaya diri mereka. Ketika diminta menyanyi, lima orang rebutan untuk ke depan. Menggeleng-geleng aku dan Wiwit mendengar lagu yang mereka nyanyikan. Kangen Band. Hehehe. Setelah bermain di dalam kelas, kami pun keluar kelas. Bermacam pula permainan di luar itu.

Meskipun panas agak terik, semangat mereka tak memudar. Gelak tawa mereka masih terdengar gaungnya. Sorakan mereka menambah semangat. Senyuman indah mereka seakan menyiratkan bahwa mereka ingin melupakan kenyataan sejenak. Hingga pukul dua belas kami berkesempatan bersama mereka, hingga waktunya mereka pulang sekolah. Sempat pula berbincang dengan guru-guru sebelum pulang. Salah seorang guru bilang, mereka harus memaklumi permohonan orangtua. Orangtua tak melepas anaknya untuk ke sekolah jika hari hujan. Takut ada air besar lagi. Jadi, kalau hujan, sekolah sepi mendadak. Setelah dari SD, kami menuju lokasi bencana yang tak jauh dari sana. Shalat Zuhur di Masjid Babussalam yang kokoh berdiri tanpa diganggu sedikit pun.

 

APAdent dan ODOLONO November 10, 2008

Diarsipkan di bawah: school news, sebuah catatan harian — OPie ... @ 3:12 am
Tags:

051108

Pagi ini saya kuliah Psikologi Perkembangan dengan Bu ‘B’ (maaf tak bisa disebutkan namanya, si ibunya takut ngetop mendadak katanya). Sepertinya akan ada beberapa hal yang lucu lagi hari ini. Hehe. Hari ini Bu B  flu. Ia mempersiapkan tissue di atas mejanya. Sebenarnya ada hal yang lucu tentang flunya, tapi cukup saya saja yang tahu. Eh, hari ini catatan kuliah saya banyak gambarnya loh. Gambar Bu B. Hihihihi…. Lanjut.
Lagi-lagi Bu B berkisah mengenai perkembangan sosio-emosional masa dewasa madya. Yah, tentang persahabatan dan cinta, misalnya. Nah, ngomong-ngomong masalah sahabat, Bu B mulai bercerita.
#!1
“Ada teman saya yang di Bandung itu ya, dia konsul ke saya. Bu B, sahabat saya itu ya, bau mulutnya itu loh. Dia jarang gosok gigi. Kadang kalo gosok gigi nggak pake pepsodent, ciptadent, apadent, atau apalah namanya. (Wuueik!! APAdent?) Nggak tahan saya. Mau bilang, takut dia tersinggung. Kalo nggak bilang, saya teraniaya. Gimana ya Bu ya caranya? Begitu tanya teman saya. Nah, di sini saya tanya lagi sama teman saya itu. Kamu sahabatan atau Cuma teman aja? Katanya sahabat. Kalau sahabat itu, katakan ‘iya’ jika iya dan katakan ‘tidak’ jika tidak. Jujur aja sama dia, pasti dia ngerti karena kalian sahabatan. Dekat pasti ya. Dia juga akan mikir ucapan kamu itu ada benarnya juga. Eh, ternyata iya. Setelah teman saya itu bilang sama sahabatnya, eh ternyata berhasil. Sahabatnya itu malah nanya-nanya gimana caranya ilangin bau mulut.”
#2
“Waktu saya kuliah, ada lagi teman saya yang di Jakarta itu ya. Dia bau badan. (Maaph loh ya, bukan ngatain sodara-sodara di Jakarta, tapi Bu B bilangnya gitu. Hehehe) Saya dan teman-teman saya mikir gimana ya caranya ngasih tau dia. Sempat terpikir untuk ngasih kado o&*&*%#$no di hari ulang tahunnya.”
Hagh?! Apa??
“Tapi ternyata gagal karena dia pake odo*@*%#$no itu buat masker wajah.”
Hagh? Apa, Bu?
“Tapi setelah pacarnya bilang kalo dia itu bau badan, dengan semangat-kasak kusuk-heboh sendiri nanyain gimana caranya ngilangin bau badan ke saya. Saya ajak dia ke toko untuk beli odolono.”
Odolono? Apa sih? Sejenis deodorant kali ya? Atau saya memang salah dengar? Entahlah.  Beberapa hal tentang Bu B:
1.    Salah satu dosen yang lucu dari sekian banyak dosen yang lucu.
2.    Trendsetter kata-kata. Yang udah popular di kampus nih contohnya, “Appaaaaaaaaa ini!” (dengan cara bicara dan nada yang khas, diikuti rotasi kepala 180°).
3.    Satu-satunya dosen yang tidak mengakui penurunan kondisi fisiknya ketika sudah menginjak usia yang tak lagi muda.
4.    Lain-lain yang tak bisa disebutkan. Saya takut kena timpuk buku-buku perkembangan yang tebalnya minta ampun atau dikasih nilai E. Tidaaaakkkk!!!
Ps: buat teman-teman yang mengetahui Bu B sebenarnya, tolong simpan rahasia Negara ini rapat-rapat. Jangan sampai saya ketahuan ngegosipin Bu B. Di blog pula. Apa kata dunia kalo saya………….$%^&%*&*()%$@!#

 

Pelatihan Pengembangan Diri Oktober 5, 2008

Diarsipkan di bawah: school news — OPie ... @ 7:37 am
Tags:

Pelatihan Pengembangan Diri

Masih dalam rangkaian Bengkel Ramadhan Psikologi UNP, hari ini diadakan Pelatihan Pengembangan Diri. Saya antusias sekali dengan acara ini. Saya harap, setelah mengikuti pelatihan yang tak lama ini, saya mengetahui siapa saya, potensi diri saya, kekurangan dan kelebihan saya, mempunyai teman-teman untuk saling berbagi, dan banyak hal lainnya. Begitu yang saya tulis pada selembar kertas kecil yang kemudian ditempel di sebuah gambar pohon besar. Saya tak mampu menempelnya pada ranting pohon tertinggi. Bukan karena saya tak semangat dengan harapan saya, tapi karena saya tak mampu menjangkaunya.

Dalam pelatihan ini, kami juga disajikan materi. Nasehat-nasehat untuk memotivasi diri lewat beberapa narasi menarik. Kemudian, kami diberikan beberapa lembaran kertas berisikan pertanyaan-pertanyaan, seperti kekurangan dan kelebihan saya, cita-cita saya, identitas saya, dan lainnya. Kertas itu kemudian digilir, diisi pula oleh teman-teman peserta lainnya. Saling mengomentari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Selain itu, juga ada beberapa games seru. Hanya sedikit yang membikin saya tidak puas. Waktunya terlalu singkat.

Saya harap Self-Development Center yang berupa Pusat Konsultasi ini tak hanya diperuntukkan bagi warga kampus Psikologi, tapi juga untuk masyarakat sekitar. Selain membantu masyarakat , tentunya calon sarjana psikologi ini juga dapat mengaplikasikan ilmunya. Kita benar-benar sudah dilatih untuk mengabdi pada masyarakat, menyelamatkan bangsa.

 

Pelatihan Jurnalistik Psikologi UNP Oktober 5, 2008

Diarsipkan di bawah: school news — OPie ... @ 7:19 am
Tags: ,

Ramadhan bersama Psikologi banjir kegiatan. “Bengkel Ramadhan” menyajikan bermacam acara menarik dan bermanfaat. Salah satunya adalah ‘Pelatihan Jurnalistik Untuk Mahasiswa Psikologi” yang merupakan bagian dari program kerja Himpro Psikologi 2008. Pelatihan ini diadakan pada tanggal 20 September 2008 di Aula UPP IV Kampus V UNP Bukittinggi. Pelatihan ini ditujukan untuk mengembangkan potensi diri, memberikan pengetahuan dan wawasan tentang jurnalistik, memberikan wacana kepada mahasiswa tentang media kampus agar mahasiswa mampu mengaplikasikan wawasan yang telah didapat dari pelatihan ini. Dalam pelatihan ini, disajikan beberapa materi menarik,seperti menulis berita oleh S. Metron M., menulis feature oleh Harris Effendi Thahar, dan mengelola media kampus oleh Andika Destika Khagen (Ganto). HIMA Psikologi UNP menyediakan tiga media; mading, forum psikologi online, dan bulletin kampus sebagai sarana pengaplikasian pelatihan ini bagi peserta. Jadi, dalam pengabdiannya dalam masyarakat nanti, sarjana psikologi ini tak hanya mengabdi secara langsung, tetapi juga bisa melalui tulisan. Saya dan rekan-rekan lainnya berharap, kita semua memberikan kontribusi untuk Psikologi UNP ini. Sesuatu yang positif, bermanfaat, edukatif. Menjadi sarjana psikologi plus yang inovatif, penuh dengan ide-ide baru, menjadi manusia-manusia yang produktif hingga mampu menuangkan ilmu pengetahuannya lewat tulisan. Sejenak kita lupakan setumpuk masalah yang menjanggal. Ada yang bilang, lebih baik menyalakan lilin dalam suatu kegelapan, daripada menyalahkan kegelapan itu sendiri. Maka, berbuatlah sesuatu!

 

Pengurus HIMA 2008/2009 Juli 2, 2008

Diarsipkan di bawah: school news — OPie ... @ 7:43 am

Setelah Ketua dan Wakil HIMA terpilih, dalam jangka waktu paling lambat 15 hari mereka harus sudah membentuk kepengurusan baru. Hari ini (26/06), ada pengumuman Pengurus HIMA yang baru yang lolos seleksi. Dan ternyata, ada namaku di sana, di bawah Departemen Profesi dan Keilmuan.

Kuceritakan sedikit tentang kepengurusan baru ini. Beberapa hari yang lalu, atas desakan Kak Anit (tentunya juga dengan keinginanku sendiri), aku menyerahkan biodataku untuk diseleksi menjadi pengurus periode 2008/2009. Esok waktunya interview. Kami diinterview satu persatu. Ada beberapa pewawancara di sana. Aku peserta pertama yang diinterview. Aku juga tidak boleh memilih akan diinterview oleh siapa. Ternyata aku dinterview sama Bang Abing (konon katanya, agak bingung). Dia alumni SMA N 3 juga. Kurasa ia tidak tahu kalau aku juga berasal dari SMA yang sama. Kadang, sempat terpikir olehku. Junior harus mengenal dan hafal nama seniornya yang bejibun itu. Tapi, apakah senior itu kenal dan hafal nama juniornya yang juga tak kalah banyak dengan mereka?

Lanjut, ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan padaku. Apa itu kepemimpinan buatku? Beberapa contoh kasus yang cukup rumit juga ditanyakan padaku. Misalnya, ada ujian mendadak pada hari H ketika aku sedang menjabat sebagai ketua panitia sebuah event. Kasus lainnya adalah ketika dihadapkan dengan dua pilihan; ada event yang harus dilaksanakan dan pada saat yang bersamaan kondisi Himpunan Mahasiswa (artinya, seluruh mahasiswa Psikologi) sedang tidak stabil, ada konflik internal. Apa yang harus kulakukan? Dan beberapa pertanyaan sejenis lainnya.

Di luar ruangan, teman-temanku sudah menunggu giliran. Sibuk bertanya-tanya tentang pertanyaan di dalam. Ant ternyata juga ikut dan diinterview oleh Bang Abing. Pertanyaan yang sama.

Kulihat Arif, temanku dari SMA juga berkeliaran di sana. Kutanyakan ia ikut atau tidak. “Ikut, tapi besok masih bisa, kan?” Tentu saja tidak bisa! Nih anak stress atau emang geblek dari sononya, sih? Padahal, ia punya basic yang akan meloloskannya, Ketua OSIS. Ia punya potensi, tapi satu masalahnya: nggak serius, nggak disiplin, dan menganggap semua bisa diatur. Setahun yang lalu, kami bertiga bertemu dengan salah seorang guru kami sewaktu SMA. “Arif, nanti kalau menjabat di kampus, jangan lupa teman-teman kita. Mereka yang juga punya potensi,” begitu beliau berpesan pada Arif. Nah, sekarang malah dia yang…Aku dan Ant malah lebih aktif darinya. Aku dan Ant bukan melupakan dia, tapi sikapnya yang begitu membuat potensinya terkubur.

Esok harinya, pengumuman yang lolos sudah terpampang. Aku dan Ant lolos dan ditempatkan di Departemen yang sama. Kami sudah punya beberapa program kerja, sebuah cita-cita bersama.

Pada rapat perdana (27/06), proker belum dibahas. Agendanya hanya silaturrahmi dan kontrak kerja. Untuk rapat perdana, aku cukup puas dengan keefektifan rapat. Ternyata diberlakukan denda di setiap keterlambaan, Rp 100/menit. Waktu rapat ditentukan. Jika sudah ditentukan dua jam, selesai atau tidaknya rapat tetap dua jam.

Oya, rapat berikutnya diadakan di Padang, bertepatan dengan registrasi ulang. Agendanya membahas program kerja dan program-program penyambutan mahasiswa baru.