^Katakan dengan Kata^

it’s the freedom of me

Komunitas Untuk Indonesia: Anti Korupsi Sampai Mati November 27, 2008

Diarsipkan di bawah: Komunitas, Uncategorized — OPie ... @ 2:08 pm
Tags:

Alunan lagu Indonesia Pusaka menggema di arena 4th Padang Book Fair, Gedung Bagindo Aziz Chan, membuka acara diskusi yang dimulai pukul 14:15 WIB itu. Lagu ciptaan Ismail Marzuki itu diiringi oleh pemusik Indonesia; gitar dan harmonika oleh Andi, Afid (vokalis dan gitaris) serta Mamad (biolis). Minggu (9/11) lalu, Komunitas Untuk Indonesia kembali mendiskusikan Indonesia dengan tema “Anti Korupsi Sampai Mati”. Pengunjung Padang Book Fair yang sesak itu satu persatu bergabung dengan mereka yang sudah berdiskusi, kemudian ikut pula menyumbangkan ide dan pendapatnya tentang Indonesia tercinta. Remaja Indonesia, mulai dari pelajar, mahasiswa serta mereka yang mencintai Indonesia, bersama menguras otak berpikir tentang Indonesia-nya dengan persoalan-persoalan kehidupan yang pelik, yang sedang bertubi-tubi berusaha menghancurkan Indonesia akhir-akhir ini. Remaja Indonesia mendiskusikan masalah-masalah yang tengah terjadi Indonesia, lalu berupaya mencarikan solusi untuk kebaikan Indonesia.
Diskusi yang ketiga Komunitas untuk Indonesia ini menggelitik nasionalisme remaja Indonesia yang hadir ketika itu. Mewabahnya tindak korupsi di Indonesia kini, membikin mereka ‘berapi-api’. Apalagi koruptor ada di mana-mana. Ketika ditanya tentang koruptor, tak sedikit acungan tangan yang sudah tak sabar menyampaikan pendapatnya. Dedi Antoni dari Universitas Andalas dengan tegas mengatakan bahwa koruptor lebih jahat daripada binatang. Koruptor itu adalah orang termiskin di dunia. Untuk itu, korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Ada pula Dewi dari STMIK Jayanusa. Ia mengajak semua orang untuk bertanya pada diri sendiri, apakah saya pernah melakukan tindak korupsi? Dedet Pratama Dinata, mahasiswa Universitas Andalas, juga tampak geram dengan tingkah koruptor di Indonesia, juga dengan tingkah masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia kini, seperti tutup mata tutup telinga dengan kondisi negaranya. Contohnya saja, mahasiswa lebih memikirkan tugas kuliahnya dibanding masalah-masalah di Indonesia, seperti korupsi. Parlen Deplomar, siswa MAN 1 Padang ikut berkomentar tentang koruptor. Koruptor itu, katanya, menindas hak-hak rakyat. Meluruskan persepsi kita tentang koruptor dan korupsi, Andrinov Chaniago, Kak Pakar kali ini membahas arti sesungguhnya. Korupsi adalah menggunakan hak orang banyak, termasuk menyalahgunakan kekuaasaan, jabatan, kesempatan, dan posisi untuk memperkaya diri sendiri. Korupsi itulah yang menyebabkan kemiskinan di Indonesia. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sedang ramai dibicarakan pun bisa diganti namanya menjadi Bantuan Langsung Tewas. Hak warga negara tidak dikelola dengan baik. Menurut dosen UI ini, Indonesia merupakan tempat belajar korupsi terbaik karena hanya di Indonesia lah banyak bentuk kreativitas untuk melakukan korupsi.
Jika dikaji penyebab korupsi, lebih lanjut Kak Andrianov menjelaskan bahwa niat, kesempatan, dan mentalitas saling mempengaruhi sehingga menyebabkan perilaku korupsi tersebut. Kalau ada niat, kesempatan (kekuasaan), didukung oleh mental koruptor, maka berhasil tindak korupsi tersebut. “Ada kemauan, ada jalan,” candanya.
Koruptor memang menjengkelkan, membuat geram dan sakit hati setiap orang yang merasa dirampas haknya. “Sebaiknya, koruptor itu diapakan, ya?” tanya Kak Yusrizal KW. Pacar Indonesia punya beragam pendapat tentang hukuman yang setimpal untuk para koruptor. Brata, mahasiswa UNP, menanggapinya. Menurutnya, eksekusi adalah hukuman yang paling pas untuk koruptor. Hukuman eksekusi itu juga disetujui dua orang pacar Indonesia lainnya, seperti Borry Fonanda dari SMA N 10 Padang dan Jasmin dari UNAND. Ulfi, mahasiswa UNP ini lebih menyarankan seragam khusus untuk para koruptor. Hal senada juga disampaikan Milda Oktavia dari UNP. Lily Devany, siswa SMA Pembangunan ini lebih menginginkan agar koruptor itu diasingkan dan diambil haknya. M. Windi, siswa PMT Hamka lebih menginginkan koruptor itu dipotong tangan dan kakinya secara menyilang. Kak Lince, salah seorang staf pengajar UNP angkat bicara. Menurutnya, sebaiknya Undang-Undang Anti Korupsi harus direvisi dan koruptor itu harus diberi efek jera.
Korupsi kian berlarut-larut. Entah sudah berapa jumlahnya uang negara yang dikorupsi, entah sudah berapa rakyat yang menjadi korban korupsi. Indonesia tampaknya butuh solusi untuk masalah yang tak kunjung berakhir ini. Saatnya remaja Indonesia bicara, solusi terbaik untuk Indonesia-nya.
Nilna R. Isna, mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNAND ini memberikan solusi yang membuat orang terbahak-bahak, kemudian terdiam. Merenung. Pertama, peliharalah kucing di rumah Anda. Kedua, jika pergi ke pasar, belilah lem tikus dan baca petunjuknya. Ketiga, jangan pernah mau jadi makanan kucing. Begitu solusi Nilna. Lain pula solusi dari Maghriza Novita Syahti, mahasiswa Psikologi UNP ini menyarankan setiap orang mempengaruhi orang-orang di sekelilingnya. Siapa saja, teman, orangtua, keluarga. Yang penting menyamakan tujuan kita untuk memberantas korupsi di Indonesia dan mencegah setiap orang bertindak korupsi.
Tak hanya remaja Indonesia yang punya solusi. Kak Pakar kita hari ini pun menawarkan solusi. Menurut Kak Andrinov Chaniago, hal pertama yang harus dibenahi adalah system recruitment aparatur negara yang kini asal-asalan. Kemudian, mentalitas seluruh masyarakat Indonesia harus dibina agar tidak ada lagi mental koruptor.
Indonesia butuh harapan untuk masa depannya. Harapan dari remaja, pacar Indonesia. Harapan itulah nanti yang akan menjadi penyemangat, membuat Indonesia bangkit dari keterpurukannya.
Fitria, mahasiswa UNP ini berharap seluruh masyarakat Indonesia menjadi rakyat yang berpendidikan, yang benar-benar mengerti dampak korupsi. Lain lagi Rizki yang juga dari UNP. Ia ingin setiap warga negara Indonesia merubah diri sendiri dulu. Kalau individunya sudah bagus, maka kesejahteraan masyarakat juga akan terjamin. Tak akan ada lagi korupsi.
Sebagai pacar Indonesia yang mencintai Indonesia-nya, mereka berharap Indonesia tak lagi dirundung masalah, tak lagi mendapat juara dalam hal korupsi di dunia, tak lagi menjadi sarang koruptor. Betapa inginnya teman-teman Indonesia menikmati kembali kejayaan negaranya, hal-hal baik dari Indonesia.
Acara ditutup diiringi lagu Seperti Para Koruptor dari Slank dan lagu Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik oleh pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi. (Maghriza Novita Syahti)

 

Dari Forum Penulis Pemula 2008: pengumuman Agustus 19, 2008

Diarsipkan di bawah: Komunitas, sebuah catatan harian — OPie ... @ 5:29 am
Tags:

Dua hari yang lalu, ketika aku sedang rapat HIMA membahas Proker, Badan Perpustakaan menelepon. Katanya, pertemuan berikutnya sekaligus pengumuman pemenang akan diadakan pada 16 Agustus 2008 jam sembilan pagi di Badan Perpustakaan.

Pagi-pagi tanggal 16 Agustus itu aku janjian dengan Nilna untuk bersama-sama berangkat ke Pusda. Pagi itu, Nilna bilang ia hanya bisa menghadiri sampai jam 10 karena ada kuliah. Huh., banyak teman-temanku yang tidak hadir hari ini. Ada yang sekolah, urusan mahasiswa baru, kuliah, dll.

Jam sembilan, aku dan Nilna sudah sampai di Pusda. Belum ada yang datang. Selalu saja begitu, tak pernah tepat waktu. Kemudian, aku dan Nilna mencari panitianya. Nilna menanyakan acaranya sekaligus meminta izin untuk kuliah. Akhirnya, ia pergi.

Jam sepuluh, sudah lumayan banyak yang datang, tak lebih dari dua puluh orang. Padahal, jumlah pesertanya empat puluh orang. Aku pun mengisi absent di urutan tiga belas. Kukira, pertemuan kali ini hanyalah untuk mengumumkan pemenang 14 besar lomba menulis cerpen itu. Tapi ternyata tidak. Ada agenda lain, membentuk komunitas. Tentu banyak yang menginginkan Forum Penulis Pemula 2008 tak hanya sampai di sini. Untuk itu, muncul keinginan untuk mengadakan pertemuan rutin, bedah karya, dan berdiskusi.

Hal pertama yang dilakukan adalah pemilihan nama komunitas. Setiap peserta mengajukan satu nama dan alasannya. Setelah perdebatan panjang, akhirnya ditentukanlah sebuah nama. Komunitas Bias. Pertemuan berikutnya direncanakan pada Maret 2009.

Acara berlanjut dengan pengumuman pemenang. “Ada yang mau pulang? Janji ya, habis diumumkan nggak ada yang langsung pulang,” canda panitia.

Satu persatu nama disebut. Dimulai dari nomor urut 15, tidak sesuai dengan persetujuan awalnya yang hanya sampai 14.

15. Sugesti Edward- Mahasiswa- …

14. Yulisa Farma-Umum- Pencuri Bunga

13. Septri Lediana- Mahasiswa- Darah di Telapak Tanganku

12. Yoserizal Fernando- Mahasiswa- Di Dalam Bus

11. Rika Wahyuni- Mahasiswa- Santuang Palalai

10. Deliyanti Cyntya Venny- Pelajar- Lelaki dan Kupu-Kupu di Bibirnya

9. Lily Devany- Pelajar- Di Balik Jendela

8. Zul Afrita- Mahasiswa- Alam Rasa

7. Dedy Nur Arifin- Pelajar- Laut, Titipkan Rinduku Buat Ayah

6. Medi Adioska- Umum- Limpapeh dan Perempuan Bingkuang

5. Maghriza Novita Syahti- Mahasiswa- Diriku Dalam Dirinya

4. Nilna Rahmi Isna- Mahasiswa- Banda

3. Andika Destika Khagen- Mahasiswa- Episode Kelahiran

2. Deddy Arsya- Mahasiswa- Riwayat Sepotong Kelamin

1. Reno Wulan Sari- Mahasiswa- Malam Lengang

Aku sudah jauh hari mengetahui pemenang 1 sampai 3 dari Om KW; Kak Wulan, Bang Deddy Arsya, dan Bang Andika. Hanya saja, aku masih bertanya-tanya peringkat berapa kah aku? Dalam hati aku tak yakin akan masuk dalam 14 besar yang karyanya akan dibukukan. Sebelumnya Om KW sempat bilang pada aku dan Nilna,” Cerpen kalian 5 besar atau 4 besar lah…,”

Kukira Om hanya bercanda, membesarkan hati kami saja. Ternyata prediksi Om tepat. Hehe….Ketika diumumkan ternyata aku peringkat 5. Ini pertama kalinya aku ikut lomba cerpen. Awal yang bagus, kukira.

 

Ketika Tontonan Televisi Miskin Nilai Pendidikan Juli 29, 2008

Diarsipkan di bawah: Komunitas — OPie ... @ 6:29 am
Tags:

KOMUNITAS UNTUK INDONESIA

Setelah mendiskusikan Nasionalisme pada pertemuan bulan lalu, Komunitas Untuk Indonesia mengadakan acara lagi di Aula STMIK Indonesia pada 27 Juli 2008. Diskusi ini dihadiri lebih dari 80 orang peserta. Sebagai moderator adalah Yusrizal KW dam Kak Pakar hari ini adalah Kak Eka Vidya Putra. Diskusi ini juga menghadirkan Sumartono Mulyodihardjo, seorang komunikator Indonesia juga Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sumbar.

Seperti biasa, lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul Indonesia Pusaka itu mengalun indah diiringi pemusik Indonesia yang memainkan gitar dan harmonika oleh Andi, Afid (vokalis dan gitaris) dan Mamad (biolis). Menambah kecintaan remaja Indonesia, baik pelajar maupun mahasiswa, kepada Indonesia tercinta.

Televisi menjadi pilihan. “Ketika Tontonan di Televisi Miskin Nilai Pendidikan” menjadi topik diskusi hari ini. Rasionalnya, kualitas tak lagi dipedulikan dalam tayangan televisi kini. Bisa dibilang sudah mendominasi tontonan masyarakat Indonesia. Anehnya, maraknya tayangan minim mutu menentukan rating sebuah program televisi. Realitanya kini, masyarakat Indonesia berperilaku konsumtif karena pada dasarnya manusia memiliki rasa ingin tahu. Pihak televisi juga belum mementingkan kecerdasan masyarakat Indonesia. Asal laku, mutu nggak mutu, tayang terus.

Masyarakat tidak menyadari tayangan bermasalah itu telah mematikan akal budi. Belum memahami bahwa tidak semua tayangan yang mendidik, masih ada tayangan yang melecehkan akal sehat dan meruntuhkan nilai. Televisi telah menjadi Tuhan yang menghancurkan fungsi keluarga yang berperan utama dalam mendidik anak dan dalam mengenal dunia dari usia dini. Begitu Abel Tasman, pengamat televisi Indonesia berpendapat.

Menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Sasa Djuarsa Sendjaja, suatu tayangan dinilai bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan (fisik, social, dan psikologis) baik dalam bentuk tindakan verbal maupun non verbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individual, penganiayaan terhadap anak serta tidak sesuai dengan norma kesopanan dan kesusilaan.

Alizar, salah seorang peserta diskusi mempertanyakan sikap KPI dalam menindak permasalahan minimnya pendidikan dalam program televisi. Begitu juga Ilham yang juga menanyakan bentuk pengawasan KPI. Bapak Sumartono, selaku Wakil Ketua KPI Daerah Sumbar menjelaskan, KPI hanya berhak untuk mengawasi lembaga penyiaran dan mengawasi isi siaran. Jika sudah tidak sesuai, maka KPI akan menegur lembaga penyiaran tersebut. Untuk tindak lanjutnya dilakukan oleh Departemen Komunikasi dan Informasi.

Pacar-pacar Indonesia, remaja Indonesia, tak ingin lagi televisi menghancurkan bangsa, tak ingin menyita waktu belajarnya, tak ingin waktu bersama keluarganya terbuang sia-sia. Kini mereka punya pendapat dan menawarkan solusi. Saatnya remaja-remaja Indonesia buka mulut.

Ade, mahasiswa UNP ini tak setuju jika televisi membodohi penontonnya. Buktinya tak sedikit remaja yang kreatif dan intelek. Pendapat ini disetujui Lily Devani dari SMA Pembangunan Padang. Menurutnya, masih ada program-program yang bermanfaat dan bernilai pendidikan. Tapi, ia tak membantah bahwa masih ada teman-teman yang terlalu lengah dan terlalu asyik menonton televisi. Akibatnya, mereka kurang peduli dengan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Minim waktu untuk belajar, membaca, bergaul, dan berdiskusi.

Maghriza Novita Syahti dari Psikologi UNP menawarkan solusi untuk masalah ini. Kita harus menyadari bahwa keluarga adalah agen sosialisasi utama, jangan sampai televisi menggantikan posisi itu. Pemerintah juga harus lebih tegas dengan mengatur jadwal siaran televisi. Saatnya setiap program televisi diberi pelabelan sehingga menghindari penyimpangan perilaku remaja. Pihak penyiaran pun harus mengkondisikan jadwal tayangnya untuk anak-anak dan remaja untuk menonton tayangan yang bermutu dan mendidik.

Nilna R. Isna dari Kesehatan Masyarakat Unand gemas dengan realita televisi sekarang. Ia berharap orangtua menyingkirkan televisi dari ruang makan atau ruang keluarga. Kedua tempat sentral itu menyeret anggota keluarga untuk menonton televisi pada waktu yang harusnya disediakan untuk keluarga

“Jika perlu televisi ditaruh saja di gudang atau di kamar orang tua, jadi kami menjadi malas untuk menonton televisi,” candanya.

Sebagai remaja yang selalu ada untuk Indonesia, pacar-pacar Indonesia ini berpesan. Mereka berharap, teman-teman Indonesia mampu memilih tayangan yang berkualitas. Stop sinetron yang membuat penonton cengeng, berburuk sangka kepada orang lain, berbuat anarkis, atau stop menonton tindakan rekonstruksi ulang sebuah peristiwa kriminal yang secara tidak langsung mengajarkan tindakan criminal. Pacar Indonesia tidak ingin teman-teman merusak cinta teman-teman kepada Indonesia. Saatnya kita memperhatikan Indonesia yang menginginkan Indonesia sempurna dan pulih dari setiap kekurangannya. Mutia Ulfah, mahasiswa IAIN dalam pesannya menginginkan Indonesia melihat yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, membaca yang baik-baik dan berbuat yang baik-baik. Jika tidak, ia masih pacar Indonesia yang mencintai Indonesia apa adanya. Jangan ada yang mencela Indonesia lagi, jangan sampai ada yang berbuat anarkis, tetapi mari kita tutupi setiap kekurangan Indonesia dengan perubahan sedikit demi sedikit.

Semua bertepuk untuk pacar Indonesia. Acara ditutup diiringi lagu Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik oleh pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi. (Maghriza Novita Syahti)