Rabu. Jika tak ada seminar dan rencana untuk penyuluhan Posyandu Double Care di Padang Panjang, seharusnya saya berada di Padang.
Rabu tak ada jadwal kuliah. Maka, saya, Ant, Rani, dan Jerry menuju Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Menurut saya, perpustakaan ini sangat nyaman untuk membaca. Pemandangan dan udaranya bagus. Namun, masih ada beberapa hal yang membikin saya dan teman-teman kesal di hari Rabu itu.
#1
Jika ingin masuk ke perpustakaan, tentunya kita harus menitipkan barang. Peraturan ini termasuk salah satu yang tidak saya suka. Artinya, saya harus membawa laptop, charger, handphone, buku catatan, pulpen, dan dompet. Tanpa tas. Kedua tangan saya ini harus memagut semua benda-benda tersebut hingga menemukan meja baca yang kosong.
Rupanya, tak hanya saya yang kesal di tempat penitipan itu. Rani tahu betul peraturan, tak boleh mengenakan jaket di perpustakaan. Ia sudah bersiap melepas jaketnya, namun petugas masih memintanya untuk melepaskan jaket. Tambahan, dengan cara yang tidak sopan secara verbal.
#2
Tempat buku berpindah. Dengan semangat saya menuju rak buku psikologi. Namun, yang saya temui adalah buku agama. Seharusnya, kategori buku itu memang ditaruh di atas agar dapat dilihat dari mana pun kita berdiri. Di sini, kategori buku ditempel di rak buku. Setelah menelusuri rak-rak buku, rupanya buku psikologi ada di sudut ruangan, buku pendidikan di sebelah kanan.
Bertanya kepada petugas perpustakaan tentu akan lebih memudahkan. Namun, saya hanya tak ingin mengganggu mereka yang mengobrol sambil sesekali tertawa cekikikan.
#3
Karena kami berkelompok dan ingin presentasi, serta membutuhkan banyak colokan listrik untuk men-charge laptop, maka kami ingin menggunakan ruang baca grup. Saya pun meminta izin kepada petugas perpustakaan.
“Pak, saya dan teman-teman saya boleh pakai ruang baca grup?”
“Buat apa? Mau ngapain emangnya?”
“Kami mau mendiskusikan bacaan dan presentasi, Pak.”
“Oh.”
“Boleh, Pak?”
“Boleh.”
Setelah satu jam kami menggunakan ruang baca grup itu, datanglah seorang ibu pegawai perpustakaan. Numpang makan. Beberapa menit kemudian, ibu yang sama datang lagi. Numpang tidur.
Beberapa jam kemudian, ketika saya dan Rani kembali dari meletakkan buku-buku yang kami ambil ke tempatnya, Ant cemberut. Ia tampak kesal duduk di luar ruang baca grup. Lengkap dengan seluruh peralatan saya, Rani, dan Jerry.
Saya lihat ke dalam ruang baca grup, ada seorang ibu petugas perpustakaan yang sedang shalat. Ant pun memulai ceritanya.
Ibu petugas: Kalau mau baca di luar aja!
Ant: Tadi diskusi juga bu sam teman-teman. Udah minta izin juga.
Ibu petugas: Sama siapa minta izinnya?
Ant: Sama bapak-bapak ibu-ibu yang di sana
Ibu petugas: Kalau baca, tempatnya di luar. Di sini tuh tempat shalat, makan.
@#@$%#^%%#^$$%&$%!!!
Jelas-jelas tertulis di depan ruangan itu : RUANG BACA GRUP.
Rasanya saya perlu memberitahu ibu itu. Mushola itu ada di lantai satu, sebelah kiri. Peraturannya tak boleh membawa makanan ke dalam perpustakaan, apalagi memakannya. Dan fasilitas perpustakaan perlu dimanfaatkan sesuai dengan keperluannya.
ruang baca yang multifungsi. hanya ada di Indonesia
itulah! harusnya bangga ya? hanya ada di Indonesia…