Hai, semua! Apa kabarmu? Kabarku baik-baik saja.
Akhirnya saya kembali lagi setelah empat bulan tak nongol-nongol. Hehehe. Beberapa minggu belakangan ini daily activity saya bertambah satu. Les Bahasa Inggris. Conversation. Saya les bersama Lit, teman kuliah saya, dan Ibi, sepupu saya yang saya jerumuskan untuk ikutan les. Hehehe.
Lit dan saya memang sudah sedari lama ingin les bahasa inggris. Tapi tak juga kesampaian. Saya pun juga sudah mengancang-ancang untuk les bersama kak Ria, bang Adin, dan bang Dika. Tapi gagal karena banyak hal.
Hingga semangat saya pun kembali setelah menerima transferan semangat dari Lit. Hehe. Kami pun survei ke berbagai tempat les. Biaya, metode belajar, lama belajar, dan sebagainya. Setelah berkelana ke mana-mana, ujung-ujungnya ke tempat Pak Joko juga yang notabene dekat dari rumah saya. Hehehe.
Saya dan Lit pun akhirnya menyetujui untuk les di sana. Berhubung untuk masalah biaya rasanya terlalu besar untuk kami yang hanya berdua, saya pun melobi Ibi, sepupu saya, yang kuliah di Jakarta. Mumpung Ibi di Padang. saya jerumuskan dia ke jalan yang benar. Hehe. Ia pun akhirnya setuju dalam lobi melalui telepon selama 20 menit.
Memang, program yang kami ambil ini sangat singkat. Hanya sekitar 3 minggu. Gila, ya? Apa benar bisa bahasa Inggris selama 3 minggu? Saya pikir, everything is possible ya, kalau Pak Jokonya mencari cara cerdas mengajar anak tiga yang ‘agak-agak ele’ ini dan kami pun serius mengubah diri agar tidak menjadi ‘ele’ lagi plus practice. Ya, harus latihan dan belajar plusplus.
Kami les setiap hari setiap pukul 15.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Puasa-puasa gini. Kalau saya sih aman-aman aja bisa break the fast di rumah. Nah, Lit dan Ibi gimana? Lit rumahnya di Lubuk Alung. Kira-kira perjalanan dari tempat les ke rumah dia dengan menggunakan public transportation tuh kira-kira satu setengah jam. Kalau Ibi, rumahnya di Banuaran. Demi menuntu ilmu (ehem…), mereka pun rela bawa beverage dan sejenis kue-kue gitu dari rumah untuk break the fast on the way. Ahhahaha.
Les di bulan puasa, sensasinya memang mantab. Hehe. Jangan sampai kelas menjadi diam-sunyi-senyap. Berhati-hatilah. Pegang perutmu. Ingatkan dia supaya jangan berbunyi dulu. Hehehe. Memang sih, kejadian ini belum pernah terjadi di kelas kami.
Les di bulan puasa, tantangannya juga mantab. Bayangkan, ya. Di kelas, setiap contoh kalimat selalu ada hubungannnya dengan cook, food, dan fruit. Si bapak suka sekali dengan tiga hal tersebut. Yang ini tantangannya masih minim. Karena imajinasi masih bisa dikendalikan. Nah, yang paling-palingnya itu, ketika jam kedua, sekitar pukul 16.30 WIB, setelah shalat ashar. Nah, saatnya discuss.
Ketika diskusi-maota lamak dalam bahasa inggris, kami acap kali membicarakan masakan. Sesekali memang kami membahas pendidikan, pengalaman, internet, kasus ter-hot Indonesia-Malaysia, tempat wisata, dan lainnya. Tapi, ketika membicarakan masakan, kami selalu antusias. Si bapak selalu pandai mendeskripsikan masakan tersebut hingga kami pun mau tak mau berimajinasi juga. Hehehe. Yaiyala, si bapak kan pandai memasak dan banyak pesanan masak. Entah itu kue, masakan padang, dan masakan apa pun.
Dalam sehari, setidaknya kami diceritakan bagaimana membuat satu masakan biar enak. Bumbunya apa saja, takaran yang pasnya berapa, bagaimana membikin masakan itu sesehat mungkin, dan lainnya. Seruseruseru. Les bahasa Inggris bonus les memasak. Tapi, puasa-puasa gini, di menit-menit terakhir untuk break the fast, kami membayangkan masakan enak sekali. Hehehe.
wah, seru nih pi
so, gmn perkembangan b.ing n memasakny? hehe..
minta resepnya juga dunk
englishnya lumayan lha kak. masi ‘ele’ tapi gag ‘ele-ele’ amat lha. wkwkwkkwk.
nah, kalo yang memasak, aku gag punya catatannya. Minta ke lit deh, kak. hehehe. Lengkap. Lit udah practice. wkwkwkwk.
wih opieee, moga bisa cepat lancar bahasa linggis nya, co-admin nunggu pieee
Co-admin apa, bang?
jjjailaaah pie…. jadi gitu ttoooo?? bagusnya kalian bawa kompor, wajan, plus perlengkapan masak nyang lain biar pas boring banget wat diskusi bisa praktek memasak aja di ono itung2 belajar jadi istri yang baik
yeeeks gw ngelantur… (ngebetkawin.com)
ide bagus tuh, na. Tapi seingatku, si bapak pernah bilang tentang istri yang baik itu lah. Dan tau kan siapa yang paling tertarik dengan topik itu? Duta wisata kita! Hehehehe