Semakin bertambahnya tahun, semakin bertambah pula orang yang didiagnosis menderita penyakit Demensia. Jika diartikan, menurut buku Gaya Hidup Penghambat Alzheimer, demensia merupakan himpunan gejala penurunan fungsi intelektual, umumnya ditandai terganggunya minimal tiga fungsi, yaitu bahasa, memori visuospasial, dan emosional. Jadi, demensia bukan suatu penyakit, tetapi kumpulan gejala-gejala yang menyertai berbagai penyakit. Menurut buku ini, terdapat 70 penyakit atau keadaan yang menyebabkan demensia.
Penuaan ternyata tidak hanya untuk kulit, tetapi juga untuk otak. Demensia juga disebut sebagai proses penuaan pada otak. Secara structural, semakin sedikit hubungan antar sel yang dibuat otak, sebagai akibat dari berkurangnya fungsi otak, juga potensi ingatan tidak didukung pelatihan, pemakaian, serta asupan gizi, ternyata semakin beresiko menderita penurunan. Zat kimia dalam otak akan menurun hingga membuat volume otak mengecil dan rongga-rongga dalam otak menjadi lebar.
PENYEBAB DEMENSIA
Beberapa bagian otak yang tugasnya terkait dengan ingatan– prefrontal cortex untuk mengingat hal-hal yang sudah lama dan hippocampus untuk hal-hal baru yang ingin diingat – akan kehilangan kira-kira 20 persen sel-sel syarafnya seiring dengan bertambahnya usia. Demensia atau berkurangnya fungsi-fungsi kognitif dan perilaku akibat hal-hal fisiologis, akhirnya menjadi penyakit yang populer di usia lanjut dan menjadi ‘gerbang’ bagi penyakit-penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson.
Banyak hal yang menyebabkan demensia ini. Demensia dapat disebabkan oleh cedera kepala, infeksi otak, keracunan, kekurangan zat nutrisi, serta stroke yang meluas, tumor otak, dan lainnya. Bisa pula disebabkan oleh gizi buruk, gangguan system saraf, penggunaan narkotika, alcohol, kecemasan atau depresi, dan pelepasan kortisol berlebihan akibat stress.
Beberapa hal tidak terlalu serius turut berperan dalam menyebabkan demensia, tetapi perlu diwaspadai. Seperti, di bawah pengaruh narkotika dan alcohol, diburu waktu, ketakutan, kurang perhatian, lelah fisik dan mental, merasa bingung, marah, dan tertekan, perhatian terganggu, terlalu banyak bekerja, dan terlalu tegang.
PROSES PENUAAN OTAK
Proses penuaan membikin kemunduran kemampuan otak. Kemampuan yang mundur biasanya adalah daya ingat dan inteligensi dasar. Kemunduran daya ingat ini berupa penuruan kemampuan penamaan dan proses mencari kembali informasi yang telah tersimpan di dalam memori. Jadi, memori harus tetap eksis. Caranya tak sulit, kok. Pokoknya, jangan pernah membiarkan otak menganggur. Membaca, mendengar berita, atau cerita dari berbagai media cukup membantu dalam mencegah pengangguran otak. Namun, kalau ingin otakmu menganggur, caranya juga tak sulit. Tinggal ongkang-ongkang kaki sambil merenungi nasib yang tak kunjung berubah. Tapi, konsekuensinya, kamu akan mengalami penurunan daya ingat dalam waktu dekat. Pilih yang mana?
Sedangkan, inteligensi dasar merupakan penurunan fungsi otak bagian kanan, berupa kesulitan dalam komunikasi non verbal. Misalnya, pemecahan masalah, mengenal wajah orang, kesulitan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi. Tak ingin seperti itu, kan? Mencegahnya juga gampang, kok. Cukup dengan mempertahankan proses belajar, meskipun sudah lansia. Bagi lansia, caranya tentu tak harus mengulang pelajaran-pelajaran di sekolah dulu. Tapi, perlu mengasah otak. Misalnya, dengan memecahkan masalah sederhana, mengenal tulisan, symbol, dan angka, serta tetap menggerakkan anggota tubuh secara wajar.
Nah, penuaan otak ini menyebabkan lupa, maka banyak pula jenis lupanya. Pertama, lupa wajar karena factor usia. Jenis lupa ini biasanya butuh waktu yang lama untuk menjawab dengan akurat jika ditanyakan sesuatu. Lupa ini tidak semakin memburuk dari waktu ke waktu. Ada pula lupa karena gejala gangguan kognisi ringan (pra pikun). Orang-orang yang lupa seperti ini mandiri dalam kesehariannya, tidak mengalami gangguan fungsi social dan pekerjaan. Lupa jenis ini mengalami penuruan fungsi memori jangka pendek. Hingga mereka kerap membuat keputusan berulang-ulang yang isinya sama. Jenis lupa berikutnya adalah gejala dini demensia (pikun). Banyak kemuduran yang terjadi pada demensia, seperti bahasa, memori, pengenalan ruang dan tempat. Hal itu membuat fungsi social dan pekerjaannya terganggu. Makanya, demensia bukanlah lupa biasa.
GEJALA DEMENSIA
Penderita demensia mengalami hilang ingatan baru-baru ini, bukan sekedar lupa. Kadang juga lupa kata-kata atau bahasa yang tepat. Mungkin pula, penderita demensia ini mengalami perasaan yang berubah-ubah (moody), mendadak tak berminat melakukan aktivitas. Parahnya lagi, mereka tak ingat lagi jalan pulang ke rumah, bahkan lupa bagaimana caranya melakukan tugas sehari-hari.
Contoh yang dekat dengan keseharian kita misalnya, sulit menghitung uang kembalian, sulit melakukan hal-hal biasa yang dilakukan sehari-hari (mandi, menelepon, mengancingkan baju), serta lebih banyak menyendiri.
SELAMATKAN OTAK, CEGAH DEMENSIA
Agar tidak terkena demensia di usia lanjut nanti, kita harus menyelamatkan otak mulai sekarang untuk mencegahnya. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah gaya hidup. Mereka yang kurang tidur, jam tidurnya tak beraturan, biasanya mudah terkena penyakit lupa. Begitu pula dengan fast food, yang bisa mengakibatkan pembuluh darah kaku dan menebal hingga aliran darah ke otak itu berkurang. Pola makan juga harus diperhatikan agar sehat dan bergizi. Pilihlah makanan-makanan yang baik untuk otak, seperti ikan, daging, ayam, susu, sayuran hijau, kacang-kacangan, jeruk, teh hijau, dan lainnya. Konsumsi pula hidangan penguat daya ingat setiap hari, seperti makanan yang mengandung vitamin E, B6, B12.
Ternyata, jus sayur dan buah juga menyelamatkan otak, loh! Misalnya, jus anggur mencegah penuaan otak, pisang memenuhi kebutuhan vitamin B6, jus apel juga bagus untuk pikiran kita. Sayuran tak kalah penting. Makan banyak sayuran membantu menyelamatkan ingatan dan perhatian di usia lanjut.
Melatih otak, penting sekali. Mereka yang beringatan kuat senang sekali bermain teka-teki silang, membaca, bermain bridge, dan lain-lain. Jangan lupa untuk mengaktifkan otak kiri dan kanan secara bersamaan. Misalnya, dengan melakukan gerakan menyilang atau mencoba melatih kesabaran dengan menulis menggunakan tangan kiri.
Menangkal kepikunan bisa juga dengan berpikiran positif, rasional, rileks, dan berinteraksi dengan banyak orang. Hindari pikiran negative, emosional, karena pikiran seperti itu dapat menimbulkan distress (stress yang buruk). Happy dan gaul, kuncinya. Melestarikan hobby, boleh juga tuh! Misalnya, berkaraoke, berkebun, berolahraga, membaca, dan hal seru lainnya.
Jangan lupa untuk menjaga kesehatan otak. Memberikan oksigen yang cukup, menjaga tekanan darah agar tetap normal, hindari kebiasaan tidak sehat (misal, merokok), mencoba aromaterapi, dan meditasi merupakan beberapa hal yang bisa kita lakukan agar otak tetap sehat.
Proses penuaan memang tidak dapat dihambat. Kita perlu menyadari bahwa berat otak akan berkurang seiring bertambahnya usia. Tetapi, paling tidak kita mampu menghadapinya dengan sehat. (Maghriza Novita Syahti/ berbagai sumber)


banyak kok yang bisa dilakukan buat mencegah kepikunan ini.. lain halnya kalau Alzhaimer ya…
tapi melatih otak jangan sampai berhenti… baca buku… isi TTS… mengobrol… hal hal begitu yang makin tua makin jarang dilakukan…
sipp…setuju. Seandainya semua orang menyadari itu.