^Katakan dengan Kata^

it’s the freedom of me

Si Budi yang Hiperaktif Februari 16, 2009

Diarsipkan di bawah: OPie belajar Psychology — OPie ... @ 9:40 am

Ketika Budi genap dua bulan bersekolah di SD, Ibu dipanggil oleh guru Budi ke sekolah. Ibu guru bilang, Budi sering bergerak hingga teman-temannya tak konsentrasi belajar. Ia berkeliling kelas, mengajak temannya mengobrol. Budi jarang duduk tenang. Ia tampak gelisah. Ibu guru sudah memberinya sanksi berulang kali atas semua tindakan buruknya. Terakhir, Budi memanjat pagar belakang sekolah dan tak bisa turun.
Ibu Budi sedikit curhat pula pada guru. Budi memang bermasalah sedari ia berusia 4 tahun. Ia banyak menuntut, gelisah. Kerap kali ia tidur larut dan bangun sebelum yang lain terbangun. Kemudian, berlari dari ruangan yang satu ke ruangan lainnya dan mengacak-acak benda-benda. Pernah ketika bangun tidur ia langsung membuka pintu, lalu pagar, hingga sampai di jalan raya. Untung saja, kakeknya yang kembali dari masjid setelah shalat subuh menyelamatkan Budi dan membawanya kembali ke rumah. Ibu Budi juga bercerita bahwa Budi pernah dites kemampuan akademiknya. Hasilnya rata-rata. Tapi, Budi sama sekali tak punya rentang perhatian. Ia tak suka televisi. Tak suka permainan yang membutuhkan konsentrasi. Lebih suka bermain sepeda sendiri ketimbang bersama teman-temannya.
Sepulang dari sekolah Budi, Ibu mencari-cari bahan bacaan tentang perilaku anaknya. Ibu membaca beberapa buku dan artikel. Ternyata, Budi ini mengalami Attention-Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). Lebih populer dengan nama hiperaktif. ADHD ini merupakan gangguan perilaku yang ditandai oleh aktivitas motorik yang berlebihan dan ketidakmampuan untuk memfokuskan perhatian. Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.
Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Tangan atau kakinya bergerak, menggeliat-geliat di kursi, berlarian atau memanjat, atau meninggalkan kursinya ketika situasi belajar sedang tenang. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik. Sedangkan, gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Ia tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antre. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.Ketiga gangguan tersebut sudah menetap minimal 6 bulan dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
Meskipun anak-anak ADHD mempunyai inteligensi rata-rata atau di atas rata-rata, mereka cenderung berprestasi di bawah potensinya, Mereka gagal mengingat instruksi dan menyelesaikan tugas. Mereka lebih sering mengalami luka fisik dan mengalami gangguan mood, masalah dalam hubungan dengan anggota keluarga, dan kecemasan. Anak-anak ADHD tak populer di kalangan teman-temannya karena mereka kurang berempati atau kurang sadar akan perasaan orang lain. Walaupun gangguan ini cenderung berkurang seiring dengan bertambahnya usia, tetapi sering menetap hingga masa remaja dan dewasa dalam bentuk yang lebih ringan.

KENAPA HIPERAKTIF?

Para peneliti menyebut pengaruh faktor biologis, lingkungan, dan interaksi genetis-lingkungan tentang ADHD ini. Dari segi biologis, para peneliti menemukan bagian-bagian otak yang mempengaruhi. Contohnya, kurang aktifnya otak bagian depan dari korteks otak besar, yaitu bagian otak yang bertugas untuk menghambat impuls-impuls dan mengontrol diri. Terjadinya perkembangan otak yang lambat, disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi  Terjadi pula abnormalitas ringan di area otak yang mengatur perhatian, kontrol gerakan, dan komunikasi antara hemisfer kanan dan kiri. Tidak teraturnya jalur saraf pada otak yang menggunakan neourotransmiter serotonin rupanya juga membantu menjelaskan komponen impulsivitas dan hiperaktivitas dari ADHD.
Masalah-masalah prenatal juga membawa dampak. Misalnya, proses persalinan yang lama, distres  pada ibu hamil, dan sebagainya. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok, dan minum alkohol juga memungkinkan perilaku hiperaktif pada anak. Para peneliti juga mendapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
Selain itu, faktor lingkungan juga berpengaruh, Misalnya, terjadinya konflik dalam keluarga dan kurang baiknya pengasuhan orangtua dalam menangani gangguan tingkah laku anak.

MENGATASI PERILAKU HIPERAKTIF PADA ANAK

Ibu Budi agak bingung juga bagaimana mengatasi tingkah laku Budi yang seperti itu. Ia ingat, ia mempunyai teman seorang psikolog anak. Diraihnya gagang telepon, kemudian ditekannya tombol nomor-nomor itu. Tampaknya tak sabar ia untuk bertanya.
Pembicaraan panjang di telepon itu memberikan titik cerah bagi Ibu Budi. Kini, ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk Budi.
1.    Orangtua harus mencari tahu segala informasi tentang gangguan hiperaktivitas. Misalnya, dengan mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi.
2.    Berikan ia rasa percaya diri. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Bisa juga dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Usahakan emosi Anda tetap stabil agar anak tahu bahwa penguatan positif itu tidak datang atas kendali amarah.
3.    Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, terimalah keterbatasannya. Tak lupa untuk konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Ketika anak tak bisa diam, sebaiknya jangan memarahinya. Tak ada salahnya untuk mengajaknya untuk duduk diam dengan tutur bahasa yang halus dan lembut sembari memegang kedua tangannya. Coba berikan ia pengertian ketika Anda memintanya melakukan sesuatu. Hingga ia memahami kenapa Anda berharap ia melakukan hal tersebut.
4.    Anak hiperaktif memang cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada salahnya untuk  membantu anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya, melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan.
5.    Kenali kelebihan dan bakat anak. Jika dia bergerak terus menerus, jangan panik, ikutkan saja, dan pahami apa sebenarnya tujuan dari keaktifannyaa. Sebaiknya, tak ada larangan karena bisa menyebabkan anak frustasi. Hal terpenting yang harus diketahui orangtua adalah minat dan bakatnya. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur agar ia bisa belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.
6.    Ketika ia mengungkapkan keinginan yang ada dalam pikirannya, Anda dapat membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Sebaiknya, juga melibatkan guru untuk memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akanberdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.
7.    Sebaiknya, orangtua dan anggota keluarga lainnya memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual), maupun fisiologis.

(Maghriza Novita Syahti/ Padang Ekspres Edisi Minggu, 15 Februari 2009, hal. Langkan)

Daftar Bacaan:

http://e-psikologi.com

http://BalitaCerdas.Com

Nevid, Jeffrey, dkk. 2002. Psikologi Abnormal Edisi Kelima Jilid 2.Jakarta: Erlangga

 

4 Responses to “Si Budi yang Hiperaktif”

  1. ageleng Says:

    hho, kalo gw kurang konsen kyna bkan hiperaktif… :)

  2. goncecs Says:

    biasanya kalo anak hiperaktif itu anaknya pinter lhoo !!

  3. rick Says:

    hiperaktif melibatkan faktor2 tertentu seperti toksik,genetik dan persekitaran.namun,persoalannya adakah faktor ini masih relevan?.

  4. linda marlinda,s.kom,mm Says:

    anakku memiliki ciri – ciri spt diatas, aku bingung … dimana aku harus menyekolahkan jagoan kecil ku, untuk saat ini dia bersekolah di SD negri yang kapasitasnya 40 siswa, dan selama 2 bulan berjalan..selalu ada cerita tetang anakku di kelas, dan sampai saat ini dia tdk mau menulis..apa yang harus aku lakukan ?, apakah aku harus pindah sekolah ?
    kepada para ahli …atau yg mengetahui tentang kasus ini,..sudilah kiranya memberikan pendapat yang terbaik untuk jagoan kecilku..yg amat aku sayangi


Leave a Reply