^Katakan dengan Kata^

it’s the freedom of me

Perilaku Merokok Februari 4, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — OPie ... @ 10:05 am

WAWANCARA DENGAN Drs. Mudjiran, M.Pd., Kons (KONSELOR, DOSEN PSIKOLOGI UNP)

rokok2

Apa yang menyebabkan orang tidak bisa berhenti merokok atau jika bisa akan membutuhkan waktu yang lama untuk berhenti?

Ketergantungan psikologis dan ketergantungan nikotin. Perokok tidak bisa menahan keinginan untuk merokok tersebut karena beberapa faktor, misalnya faktor kebiasaan. Merokok sudah menjadi kebiasaan rutin dan menjadi perilaku otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan disadari. Jika lingkungan memfasilitasi, akan sulit bagi perokok untuk berhenti. Misalnya, teman-teman kantor atau sekolah juga merokok. Jika ada stimulus yang memungkinkan untuk merokok, maka seseorang cenderung merokok.

Nikotin yang ada di dalam rokok itu di terima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa nikmat sehingga memacu sistem dopamine. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sedangkan pada jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan serotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok karena sudah ketergantungan pada nikotin. Ketika ia berhenti merokok rasa nikmat yang diperolehnya akan berkurang.

Apa saja dampak psikologis yang ditimbulkan dari perilaku merokok?

Merokok mempengaruhi perilaku dan psikologis seseorang. Efek dari rokok/tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku, dan fungsi psikomotor. Misalnya, kurang energi, egois, frustasi, kegugupan, konsentrasi rusak, pusing, mengantuk, kelelahan, insomnia, detak jantung tidak teratur, berkeringat, ketagihan rokok, perasaan bersalah, isolasi sosial, depresi, masalah kerja atau sekolah, dan lain sebagainya.

Kenapa perokok selalu bereaksi menentang atau marah jika dilarang merokok, bahkan cenderung berbohong?

Perilaku itu merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Perokok cenderung berasionalisasi dan mencari-cari alasan karena tidak ingin dilarang untuk merokok.

Apakah benar merokok dapat mengatasi stress?

Merokok tidak ada kaitannya sama sekali dengan stress, depresi, atau pun masalah psikologis lainnya. Jika ada orang yang merokok untuk mengatasi stress, maka perilaku merokok itu hanya sebuah pelarian. Merokok hanya melupakan sementara saja stressor (penyebab stres) karena untuk sementara waktu konsentrasi beralih pada rokok dan stressor terlupakan. Tetapi, setelah selesai merokok, konsentrasi akan kembali lagi pada stressor tersebut.

Menurut Survei Sosial Ekonomi (Susenas), prevalensi merokok pada perempuan dewasa meningkat dari 1,3% pada tahun 2001 menjadi 4,5% pada tahun 2004. Kenapa perempuan juga merokok dan jumlah perokok perempuan meningkat, Pak?

Perempuan yang merokok mempunyai pengendalian diri yang kurang. Perempuan cenderung stress dan menganggap rokok efektif untuk mengatasi stress. Perempuan labil secara emosional sehingga menjadikan rokok sebagai pelarian.

Bagaimana dengan remaja yang merokok, Pak? Bagaimana dampaknya?

Banyak faktor yang mempengaruhi remaja merokok. Pengaruh orangtua salah satunya. Jika orangtua merokok, berkemungkinan anaknya juga merokok karena anak mengalami proses identifikasi (meniru) tingkah laku orangtua. Kebanyakan remaja merokok karena alasan pergaulan.Remaja perokok kemungkinan besar teman-temannya juga perokok aktif. Apalagi remaja rentan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Faktor kepribadian juga mempengaruhi.Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Perilaku merokok ini tak terlepas dari pengaruh iklan rokok di media. Remaja yang merokok mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengalami ketergantungan, mengalami kehilangan kepercayaan diri dari usia remaja, dan cenderung berbohong pada orangtua dan guru. Sebenarnya, perokok laki-laki juga mengalami isolasi sosial karena sebagian besar lawan jenisnya tidak menyukai pria perokok.

Perilaku merokok pada remaja dapat meningkatkan resiko munculnya gangguan kecemasan pada masa remaja akhir dan masa dewasa awal. Bagaimana tentang pernyataan tersebut, Pak?

Ya, akan banyak muncul kecemasan-kecemasan pada masa remaja akhir dan dewasa awal tersebut. Misalnya, perasaan bersalah, kecemasan akan mengalami impotensi, kecemasan bahwa pasangan tidak akan dapat menerima dirinya.

Bagaimana penanganan bagi mereka yang merokok?

Yang paling efektif itu adalah pengendalian diri, bagaimana perokok itu mencoba mengatasi permasalahan tanpa harus merokok. Memotivasi diri untuk tidak merokok merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan. Berbagai keterampilan dan kemampuan juga dibutuhkan. Kemampuan untuk membuat keputusan sendiri, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan rasa cemas, dan berani menolak ajakan untuk merokok. Menurut saya, punishment tidak terlalu efektif karena tak semua orang yang taat pada peraturan. Peran orang-orang yang disayangi dan dicintai juga penting. Misalnya, jika istri yang mengingatkan untuk tidak merokok, berkemungkinan larangan itu akan didengar dan dipatuhi. Tak lupa, norma sosial yang menimbulkan efek jera karena malu.

Apa yang membuat mereka yang sudah berhenti merokok, namun kembali merokok?

Setiap orang mempunyai daya tahan psikologis yang berbeda-beda. Kemungkinan, mereka ini mempunyai daya tahan psikologis yang masih rapuh. Ada sebagian dari mereka yang belum mampu mengendalikan diri dan belum menemukan strategi untuk mengatasi keinginan itu.

(Maghriza Novita Syahti)

 

9 Responses to “Perilaku Merokok”

  1. uji Says:

    intinya apa pie, setuju opie sama mui ya pie????
    hehehehe

  2. OPie ... Says:

    intinya, perokok hendaknya beretika.

  3. Tongkonan Says:

    Benar bgt, hendaknya para perokok beretika, jangan merokok ditempat2 umum.

  4. nashrull Says:

    ya begitulah kondisi manusia saat ini, mo gimana lagi…..punya usul
    lo menurtku sebaiknya org2 yg suka mrokok itu dikumpulkan disuatu lapangan (semisal stadion) kemudian didatangkan pesawat sukhoi dan………bluuuuaar.
    setuju!!!

    lam kenal ya

  5. nanda dou mbozo Says:

    aku benci rokok ataupun orang yang menghisap asapnya,,,

    karena asapnya membuat aku sakit sampai sekarang,,,
    seandainya indonesia terbebas dari asap rokok, setidaknya dapat meminimalkan timbulnya penyakit pernapasan dii negeri kita tercinta ini…

  6. nabillaaaaa Says:

    aQ beNcii aMm yNk nMa.yy roKok ..
    gk adda unTung.yy aMm se.X !!
    itTu aMm jja ngEbaKar uaNg sNdriI ,, meNding uaNg itTu qTa tBung ,, mgQn lBh beRmanFaat ..

    dRii pDa unTuk ngeRokOk ?? yNk adda meNimbUlkan beRbaGai mCam peNyaKit ..

  7. bank otong Says:

    Semua caci maki dan sumpah serapah tak kan membuat semua menjadi lebih baik. semua nasehat dan saran tak kan merubah semua menjadi kembali normal. semua etika dan norma tak tak membuat seseorang berkata “ya” di balik kata “tidak”. Rokok, Merokok, maupun Perokok, apapun ia, adalah beresiko. tapi apakah anda sekalian bisa membuktikan bahwa tindakan merokok itu adalah sebuah dosa yang tak terampuni?

  8. anie Says:

    merokok dalam hukum islam makruh, yg artinya jika dikerjakan tidak berdosa tpi bila tidak merokok mendapatkan pahala. alangkah indahnya bila sdr2 sadar btapa pentingya tidak merokok. qt terhindar dari sikap boros bknkah ALLah tdk suka orang yg boros. dlihat dari segi kesehatan merokok tidak ada manfaatnya yg ada hanya kepuasaan sesaat yg bsa membuat kerugian bagi diri sendiri ataupun orang lain. dg merokok brrti tlh membakar uang mending uangya disyumbangin bwt anak yatim piatu lbh bermanfaat kn.

  9. luqman Says:

    merokok ternyata banyak negatifnya,,,
    tutup aja pabrik rokoknya,,beres kan?


Leave a Reply