Dua hari yang lalu, ketika aku sedang rapat HIMA membahas Proker, Badan Perpustakaan menelepon. Katanya, pertemuan berikutnya sekaligus pengumuman pemenang akan diadakan pada 16 Agustus 2008 jam sembilan pagi di Badan Perpustakaan.
Pagi-pagi tanggal 16 Agustus itu aku janjian dengan Nilna untuk bersama-sama berangkat ke Pusda. Pagi itu, Nilna bilang ia hanya bisa menghadiri sampai jam 10 karena ada kuliah. Huh., banyak teman-temanku yang tidak hadir hari ini. Ada yang sekolah, urusan mahasiswa baru, kuliah, dll.
Jam sembilan, aku dan Nilna sudah sampai di Pusda. Belum ada yang datang. Selalu saja begitu, tak pernah tepat waktu. Kemudian, aku dan Nilna mencari panitianya. Nilna menanyakan acaranya sekaligus meminta izin untuk kuliah. Akhirnya, ia pergi.
Jam sepuluh, sudah lumayan banyak yang datang, tak lebih dari dua puluh orang. Padahal, jumlah pesertanya empat puluh orang. Aku pun mengisi absent di urutan tiga belas. Kukira, pertemuan kali ini hanyalah untuk mengumumkan pemenang 14 besar lomba menulis cerpen itu. Tapi ternyata tidak. Ada agenda lain, membentuk komunitas. Tentu banyak yang menginginkan Forum Penulis Pemula 2008 tak hanya sampai di sini. Untuk itu, muncul keinginan untuk mengadakan pertemuan rutin, bedah karya, dan berdiskusi.
Hal pertama yang dilakukan adalah pemilihan nama komunitas. Setiap peserta mengajukan satu nama dan alasannya. Setelah perdebatan panjang, akhirnya ditentukanlah sebuah nama. Komunitas Bias. Pertemuan berikutnya direncanakan pada Maret 2009.
Acara berlanjut dengan pengumuman pemenang. “Ada yang mau pulang? Janji ya, habis diumumkan nggak ada yang langsung pulang,” canda panitia.
Satu persatu nama disebut. Dimulai dari nomor urut 15, tidak sesuai dengan persetujuan awalnya yang hanya sampai 14.
15. Sugesti Edward- Mahasiswa- …
14. Yulisa Farma-Umum- Pencuri Bunga
13. Septri Lediana- Mahasiswa- Darah di Telapak Tanganku
12. Yoserizal Fernando- Mahasiswa- Di Dalam Bus
11. Rika Wahyuni- Mahasiswa- Santuang Palalai
10. Deliyanti Cyntya Venny- Pelajar- Lelaki dan Kupu-Kupu di Bibirnya
9. Lily Devany- Pelajar- Di Balik Jendela
8. Zul Afrita- Mahasiswa- Alam Rasa
7. Dedy Nur Arifin- Pelajar- Laut, Titipkan Rinduku Buat Ayah
6. Medi Adioska- Umum- Limpapeh dan Perempuan Bingkuang
5. Maghriza Novita Syahti- Mahasiswa- Diriku Dalam Dirinya
4. Nilna Rahmi Isna- Mahasiswa- Banda
3. Andika Destika Khagen- Mahasiswa- Episode Kelahiran
2. Deddy Arsya- Mahasiswa- Riwayat Sepotong Kelamin
1. Reno Wulan Sari- Mahasiswa- Malam Lengang
Aku sudah jauh hari mengetahui pemenang 1 sampai 3 dari Om KW; Kak Wulan, Bang Deddy Arsya, dan Bang Andika. Hanya saja, aku masih bertanya-tanya peringkat berapa kah aku? Dalam hati aku tak yakin akan masuk dalam 14 besar yang karyanya akan dibukukan. Sebelumnya Om KW sempat bilang pada aku dan Nilna,” Cerpen kalian 5 besar atau 4 besar lah…,”
Kukira Om hanya bercanda, membesarkan hati kami saja. Ternyata prediksi Om tepat. Hehe….Ketika diumumkan ternyata aku peringkat 5. Ini pertama kalinya aku ikut lomba cerpen. Awal yang bagus, kukira.


selamat yah, Buk ehehehehee
Wah ternyata makin bagus tulisannya, moga lebih sukses lagih, okehh….
terima kasih icha…
sukses ya!
selamat ya buk! hiks, hiks.. jadi terharu.
makasi kakaq…
selamat yaeh
Haloo teman2 penulis….
Saya Dina dari Plot Point, sebuah workshop penulisan dengan tenaga pengajar profesional….
Mengajak teman2 bergabung bersama Plot Point untuk bisa lebih mengembangkan tulisan teman2 semua….
Sedikit,adalah penjelasan mengenai Plot Point….
Siapa lulusan SMA/kuliah yang tidak bisa menulis?
Tidak ada.
Siapa lulusan SMA/kuliah yang bisa menulis tetapi belum tentu bisa mengkaryakan tulisannya?
Banyak. Terlalu banyak.
Ini bukan soal kegiatan membosankan dimana kita duduk di meja sambil memandang kosong ke atas kertas putih sambil menggigit bolpen dengan penuh rasa frustasi. Ini juga bukan soal membela mati-matian teori yang mengatakan bahwa elemen visual itu lebih cepat memberikan informasi kepada otak manusia. Bayangkan. Apa jadinya kalau Benjamin Franklin memutuskan untuk menyimpan pembelajarannya soal listrik di dalam kepala? Atau kalau Walt Disney menolak bersahabat dengan kertas dan pena saat merintis mahakarya Disneylandnya? Atau bahkan kalau Thom Yorke merasa lirik lagunya yang selalu dahsyat tidak perlu repot-repot diabadikan dalam bentuk tulisan juga?
Apa sih susahnya membuat kalimat? Subjek-Predikat-Objek. Selesai. Tidak semudah itu. Dengan apatisnya, semakin banyak generasi yang memandang rendah kepada manusia-manusia post modern negara ini. Manja, serba instan, dangkal, sinis dan gampang menyerah. Membaca buku saja sulit.
Apakah kita akan diam dan membiarkan citra itu menempel? Ataukah kita akan memutuskan bahwa sudah saatnya untuk berubah?
Bukan cuma penulis yang butuh kemampuan menulis. Sudah pernah merasakan susahnya bikin skripsi? Atau ditolak sponsor karena ketidakmampuan menyusun proposal pensi? Atau merasa selalu mimpi bahwa suatu hari nanti karyanya akan memenuhi bioskop-bioskop seluruh negeri?
Profesi apa yang tidak butuh kemampuan menulis? Atau lebih sederhana lagi, profesi apa yang tidak butuh kemampuan mengerti dan menganalisa sebuah tulisan? Bahkan seorang designer pun butuh tahu apakah gambar yang dibuatnya cocok dengan tagline yang diberikan. Masak mau bulat-bulat begitu saja ia telan.
plotpoint. adalah sebuah wadah pelatihan menulis yang membuka kelas-kelas penulisan dengan jenis yang beragam, untuk melahirkan penulis-penulis yang berkualitas dan mampu benkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Terserah. Apakah dia mau terjun ke industri, atau mau menyimpan tulisan untuk kepuasan pribadi. Pokoknya tanpa tendensi.
Sasaran peserta plotpoint. adalah siapapun yang tertarik dengan kegiatan menulis dalam berbagai bentuk, skenario film, kritik film, novel, artikel, cerpen, lirik lagu, puisi, bahkan menulis untuk terapi. plotpoint. hadir untuk memfasilitasi para pesertanya dengan menghadirkan para penulis yang handal di bidangnya masing-masing sebagai tenaga pengajar. Salman Aristo (Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku), Eka Kurniawan (Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau), Hagi Hagoromo (Ex Editor in Chief TRAX Magazine & Four Four Two Magazine, Editor in Chief Alif Magazine) dan Raditya Dika (Kambing Jantan, Kambing Jantan The Movie) adalah beberapa di antaranya.
Bagi teman teman yang berminat silakan menghubungi saya di e-mail goodnightdina@gmail.com untuk keterangan lebih lanjut….atau di facebook Armadina az
Terimakasih
hai lam kenal