^Katakan dengan Kata^

it’s the freedom of me

Ketika Tontonan Televisi Miskin Nilai Pendidikan Juli 29, 2008

Diarsipkan di bawah: Komunitas — OPie ... @ 6:29 am
Tags:

KOMUNITAS UNTUK INDONESIA

Setelah mendiskusikan Nasionalisme pada pertemuan bulan lalu, Komunitas Untuk Indonesia mengadakan acara lagi di Aula STMIK Indonesia pada 27 Juli 2008. Diskusi ini dihadiri lebih dari 80 orang peserta. Sebagai moderator adalah Yusrizal KW dam Kak Pakar hari ini adalah Kak Eka Vidya Putra. Diskusi ini juga menghadirkan Sumartono Mulyodihardjo, seorang komunikator Indonesia juga Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sumbar.

Seperti biasa, lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul Indonesia Pusaka itu mengalun indah diiringi pemusik Indonesia yang memainkan gitar dan harmonika oleh Andi, Afid (vokalis dan gitaris) dan Mamad (biolis). Menambah kecintaan remaja Indonesia, baik pelajar maupun mahasiswa, kepada Indonesia tercinta.

Televisi menjadi pilihan. “Ketika Tontonan di Televisi Miskin Nilai Pendidikan” menjadi topik diskusi hari ini. Rasionalnya, kualitas tak lagi dipedulikan dalam tayangan televisi kini. Bisa dibilang sudah mendominasi tontonan masyarakat Indonesia. Anehnya, maraknya tayangan minim mutu menentukan rating sebuah program televisi. Realitanya kini, masyarakat Indonesia berperilaku konsumtif karena pada dasarnya manusia memiliki rasa ingin tahu. Pihak televisi juga belum mementingkan kecerdasan masyarakat Indonesia. Asal laku, mutu nggak mutu, tayang terus.

Masyarakat tidak menyadari tayangan bermasalah itu telah mematikan akal budi. Belum memahami bahwa tidak semua tayangan yang mendidik, masih ada tayangan yang melecehkan akal sehat dan meruntuhkan nilai. Televisi telah menjadi Tuhan yang menghancurkan fungsi keluarga yang berperan utama dalam mendidik anak dan dalam mengenal dunia dari usia dini. Begitu Abel Tasman, pengamat televisi Indonesia berpendapat.

Menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Sasa Djuarsa Sendjaja, suatu tayangan dinilai bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan (fisik, social, dan psikologis) baik dalam bentuk tindakan verbal maupun non verbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individual, penganiayaan terhadap anak serta tidak sesuai dengan norma kesopanan dan kesusilaan.

Alizar, salah seorang peserta diskusi mempertanyakan sikap KPI dalam menindak permasalahan minimnya pendidikan dalam program televisi. Begitu juga Ilham yang juga menanyakan bentuk pengawasan KPI. Bapak Sumartono, selaku Wakil Ketua KPI Daerah Sumbar menjelaskan, KPI hanya berhak untuk mengawasi lembaga penyiaran dan mengawasi isi siaran. Jika sudah tidak sesuai, maka KPI akan menegur lembaga penyiaran tersebut. Untuk tindak lanjutnya dilakukan oleh Departemen Komunikasi dan Informasi.

Pacar-pacar Indonesia, remaja Indonesia, tak ingin lagi televisi menghancurkan bangsa, tak ingin menyita waktu belajarnya, tak ingin waktu bersama keluarganya terbuang sia-sia. Kini mereka punya pendapat dan menawarkan solusi. Saatnya remaja-remaja Indonesia buka mulut.

Ade, mahasiswa UNP ini tak setuju jika televisi membodohi penontonnya. Buktinya tak sedikit remaja yang kreatif dan intelek. Pendapat ini disetujui Lily Devani dari SMA Pembangunan Padang. Menurutnya, masih ada program-program yang bermanfaat dan bernilai pendidikan. Tapi, ia tak membantah bahwa masih ada teman-teman yang terlalu lengah dan terlalu asyik menonton televisi. Akibatnya, mereka kurang peduli dengan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Minim waktu untuk belajar, membaca, bergaul, dan berdiskusi.

Maghriza Novita Syahti dari Psikologi UNP menawarkan solusi untuk masalah ini. Kita harus menyadari bahwa keluarga adalah agen sosialisasi utama, jangan sampai televisi menggantikan posisi itu. Pemerintah juga harus lebih tegas dengan mengatur jadwal siaran televisi. Saatnya setiap program televisi diberi pelabelan sehingga menghindari penyimpangan perilaku remaja. Pihak penyiaran pun harus mengkondisikan jadwal tayangnya untuk anak-anak dan remaja untuk menonton tayangan yang bermutu dan mendidik.

Nilna R. Isna dari Kesehatan Masyarakat Unand gemas dengan realita televisi sekarang. Ia berharap orangtua menyingkirkan televisi dari ruang makan atau ruang keluarga. Kedua tempat sentral itu menyeret anggota keluarga untuk menonton televisi pada waktu yang harusnya disediakan untuk keluarga

“Jika perlu televisi ditaruh saja di gudang atau di kamar orang tua, jadi kami menjadi malas untuk menonton televisi,” candanya.

Sebagai remaja yang selalu ada untuk Indonesia, pacar-pacar Indonesia ini berpesan. Mereka berharap, teman-teman Indonesia mampu memilih tayangan yang berkualitas. Stop sinetron yang membuat penonton cengeng, berburuk sangka kepada orang lain, berbuat anarkis, atau stop menonton tindakan rekonstruksi ulang sebuah peristiwa kriminal yang secara tidak langsung mengajarkan tindakan criminal. Pacar Indonesia tidak ingin teman-teman merusak cinta teman-teman kepada Indonesia. Saatnya kita memperhatikan Indonesia yang menginginkan Indonesia sempurna dan pulih dari setiap kekurangannya. Mutia Ulfah, mahasiswa IAIN dalam pesannya menginginkan Indonesia melihat yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, membaca yang baik-baik dan berbuat yang baik-baik. Jika tidak, ia masih pacar Indonesia yang mencintai Indonesia apa adanya. Jangan ada yang mencela Indonesia lagi, jangan sampai ada yang berbuat anarkis, tetapi mari kita tutupi setiap kekurangan Indonesia dengan perubahan sedikit demi sedikit.

Semua bertepuk untuk pacar Indonesia. Acara ditutup diiringi lagu Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik oleh pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi. (Maghriza Novita Syahti)

 

Mengenal W. S. Rendra Juli 29, 2008

Diarsipkan di bawah: dunia P'Mails — OPie ... @ 4:52 am
Tags: ,

W. S. Rendra, seorang penyair Indonesia lahir di keluarga Jawa. Masa kecilnya ia habiskan di Solo, kota kelahirannya. Selain dramawan tradisional, Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo. Ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta.

Pendidikannya ia selesaikan di Solo. Dimulai dari TK pada tahun 1942 hingga SMA tahun 1952 di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo.

Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat. Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya.

Cita-citanya setamat SMA adalah melanjutkan sekolah di Akademi Luar Negeri. Sesampainya di Jakarta, ternyata akademi tersebut telah ditutup. Kemudian ia memilih untuk bersekolah di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tersebut, ia telah giat menulis cerpen dan essei di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Di kemudian hari ia juga menulis puisi dan naskah drama.

WS Rendra mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah drama sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, maupun drama hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di dalam negeri, bahkan di luar negeri.

Pada tahun 1954 ia memperdalam pengetahuannya dalam bidang drama dan tari di Amerika, ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA). Ia juga mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard atas undangan pemerintah setempat.

Sebelum berangkat ke Amerika, ia telah banyak menulis sajak maupun drama di antaranya, kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta serta Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada jaman tersebut. Bahkan salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan(1954) berhasil mendapat penghargaan/hadiah dari Departemen P & K Yogyakarta.

Sekembalinya dari Amerika, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta pada tahun 1961. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada acara Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta. Ketika itu penampilannya mendapat perhatian dan sambutan yang sangat hangat dari para undangan. Demikianlah salah satu contohnya ia secara langsung telah berjasa memperkenalkan sastra Indonesia ke mata dunia internasional.

Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Ia menikahi Sunarti 31 Mareet 1959. Waktu itu, Rendrabaru berusia 24 tahun. Dari pernikahannya, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta.

Salah satu muridnya, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua dan Sito menerimanya. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Ia dijuluki burung merak karena ucapannya sendiri. Ketika ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta, ia melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya. Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini.

Kini, Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti tak lama kemudian. (Maghriza Novita Syahti/tokohindonesia,wikipedia)

BIODATA

Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra

Lahir : Solo, 7 Nopember 1935

Agama :Islam

Pendidikan :

- SMA St. Josef, Solo

- Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

- American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)

Karya-Karya

Drama:

- Orang-orang di Tikungan Jalan

- SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor

- Oedipus Rex

- Kasidah Barzanji

- Perang Troya tidak Akan Meletus

- dll

Sajak/Puisi:

- Jangan Takut Ibu

- Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)

- Empat Kumpulan Sajak

- Rick dari Corona

- Potret Pembangunan Dalam Puisi

- Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta

- Pesan Pencopet kepada Pacarnya

- Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)

- Perjuangan Suku Naga

- Blues untuk Bonnie

- Pamphleten van een Dichter

- State of Emergency

- Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api

- Mencari Bapak

- Rumpun Alang-alang

- Surat Cinta

- dll

Kegiatan lain :

Anggota Persilatan PGB Bangau Putih

Penghargaan :

- Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)

- Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)

- Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Festival yang pernah diikuti :

The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

*P’Mails edisi 149

 

Menyemangati Hidup dengan Prestasi Juli 22, 2008

Diarsipkan di bawah: dunia P'Mails — OPie ... @ 6:21 am


Ezza Wandila Putri, kini bersekolah di SMP Negeri 16 Solok Selatan. Sekolah Satu Atap itu hanya memiliki 36 orang siswa. Dedek, begitu ia menyebut dirinya, mengaku sangat menyukai Matematika meskipun banyak teman-temannya mengeluhkan kesulitan dalam pelajaran yang satu ini. Dedek sebenarnya juga akan merasakan kesulitan jika ia tidak membiasakan diri untuk belajar dengan cara yang baik. Dedek selalu mempersiapkan dirinya sebelum belajar. Ketika gurunya menjelaskan pelajaran, Dedek sudah memahami materi tersebut karena ia sudah belajar di rumah. Ia mendengarkan keterangan guru dengan baik dan bertanya jika kurang paham. Sesampainya di rumah, Dedek mengulang kembali pembahasan materi tersebut. Ia sering membuat soal Matematika sendiri dan menjawabnya sendiri. Ketika waktunya sekolah, ia sudah tidak sabar menemui gurunya untuk memperlihatkan hasil belajarnya. “Betul atau tidaknya, ndak masalah. Yang penting Dedek tahu kesalahan Dedek,” begitu ujarnya.

Ingin Jadi Pengarang

Cita-citanya tak mudah diduga. Sebagian besar dari pelajar bercita-cita untuk menjadi dokter, insinyur, pilot, pengacara, dan lain sebagainya. Tapi Dedek malah memilih untuk menjadi pengarang.

Sedari kecil, Dedek memang suka menulis dan membaca. Tapi, alasannya menjadi pengarang bukan hanya didasari kesukaan saja. Memang banyak yang bilang, pengarang itu bukan cita-cita tapi sekedar hobby saja. “Dedek hanya ingin focus. Kalau kita focus pada sesuatu hal, maka hasilnya tidak akan mengecewakan karena usaha kita sudah maksimal,” begitu Dedek menyikapi tanggapan tersebut.

Hingga sekarang, ia sudah menulis tiga cerpen. Cerpen pertamanya berjudul “Datuak Sutan Baginda Besar dan Bukit Sungai Mintan”. Cerpen inilah yang memenangkan Lomba Cipta Cerpen Tingkat Kabupaten dan Provinsi tahun ini. Ketika ditanya proses menulisnya, ia bercerita panjang.

“Malam itu, guru Dedek datang ke rumah. Menawarkan Dedek untuk ikut lomba. Awalnya Mama Dedek ragu. Tapi Dedek tetap semangat dan yakin bahwa Dedek bisa,” kenangnya.

Cerpen ini merupakan hasil pengamatannya terhadap lingkungan sekitar. Di kampungnya memang ada sebuah bukit dan sembilan penghulu di sana. Dari sanalah ide cerpen ini muncul. Dedek membutuhkan waktu enam jam untuk menuliskan cerpen ini, dari jam delapan malam sampai jam dua pagi. Esok paginya, naskah ini langsung dikirimkan ke panitia lomba.

Cerpen keduanya berjudul “Orang Bunian di Bukit Cermin.” Cerpen ini akan diikutsertakan dalam lomba tingkat nasional di Bandung. “Doakan Dedek ya, teman-teman,” ucapnya.

AKU TAK BISA BERJALAN

Bukan dunia yang kejam padaku, tapi nasibku yang malang.”

Begitu kutipan dari diary Dedek yang tak sengaja dibaca Mamanya. Ibunda tercinta mengaku tak sanggup lagi melanjutkan untuk membacanya. Tak sanggup beliau menahan tangis yang entah kapan berakhir.

Sedari kecil, Dedek tak bisa berjalan layaknya manusia biasa. Ke mana-mana Dedek dibantu seseorang untuk memapahnya berjalan. Entah itu Mamanya entah gurunya entah abangnya entah temannya. Semua mau membantu Dedek.

Kadang, ada yang menganggapnya remeh. Ada yang menghinanya. “Nasibku memang malang, tapi aku mampu memotivasi diriku sendiri.” Ia membatin.

Kadang, ia bisa bermain seperti teman-temannya. Berlari kencang ke sana kemari. Tapi, sebelumnya Dedek harus latihan berjalan dulu minimal selama satu jam. Itulah saat-saat langka baginya, ketika ia bisa bermain bersama teman-temannya. Senyumnya mengembang, gembira. Menikmati saat indah bersama, beraktivitas bersama, bermain ke sawah mengejar capung.

Tapi, jika usahanya berjalan tak berhasil, dari kejauhan Dedek hanya bisa tersenyum, sesekali tertawa, melihat teman-temannya bermain. Tak ada penyesalan dalam dirinya. Hanya ada semangat berprestasi dan kebahagiaan yang diinginkannya.

Meskipun banyak luka karena keinginannya berjalan, ia tak kunjung jera. Ia yakin, suatu saat usahanya tak akan sia-sia. Luka itu tak pula sedikit. Enam puluh bekas jahitan di kepalanya dan tangannya yang tak lagi lurus membuktikan bahwa betapa inginnya seorang Ezza berjalan seperti teman-temannya yang lain.

Ia sering terjatuh ketika mencoba berdiri dan berjalan dengan kakinya sendiri. Ketika usaha itu tak kunjung berhasil, ia akan mencoba lagi.

Ada Kelemahan, Ada Kelebihan

Ia memang tak biasa, ia luar biasa. Semangat yang hidup dalam dirinya mengalahkan segalanya. Semangat itulah yang membuatnya tetap tersenyum, tetap berusaha keras mengejar prestasi, untuk membahagiakan orangtua dan keluarganya.

Ezza kecil sudah bisa membaca dan menulis ketika berusia tiga tahun tanpa diajari. Memang banyak yang tak percaya, bahkan ibunya sendiri juga tak percaya.

Pertama kali Dedek mulai membaca adalah ketika Ayahnya sedang berobat di rumah sakit. Semasa itu, Dedek digendong oleh seorang dokter karena Ibunya sibuk mengurusi segala sesuatu yang diperlukan ketika itu. Sewaktu berjalan-jalan bersama dokter, tiba-tiba Dedek mampu mengeja, merangkai huruf, dan membacanya. Dokter pun kaget. Ibunya menggeleng tak percaya ketika diberitahu bahwa Dedek bisa membaca. Dedek kembali membaca sesuatu yang baru. Membuat orang-orang yakin bahwa ia bisa membaca.

Selain kemampuannya menulis, motivasi, dan semangatnya, Dedek selalu berprestasi di sekolahnya. Peringkat pertama tak pernah lepas dari dirinya. Prestasi itu ia raih dengan usaha. Belajar setiap malam, mengulang pelajaran, dan berlatih. Tentu saja, tak lupa berdoa dan berbakti pada orangtua.

Aku Tidak Cacat

“Dedek ndak sakit,” ucapnya ketika dibawa berobat. Memang, ketika dirontgen, tak terdapat satu kesalahan pun dalam tubuhnya. Karena itulah, Dedek yakin bahwa suatu saat (tak lama lagi) Dedek akan bisa berjalan, berlari mengejar kupu-kupu yang berterbangan.

Ia juga yakin bahwa Tuhan tak pernah menciptakan orang cacat. Selalu ada hikmah di baliknya. Kini, Dedek sangat bersyukur karena hikmah tersebut sudah dirasakannya. Ia berprestasi baik di sekoalh maupun di bidang kepenulisan. Ia juga punya semangat dan motivasi yang belum tentu semua orang memilikinya.

“Tetaplah bersyukur dengan dirimu sekarang dan munculkan semangat itu,” begitu pesannya pada pembaca P’Mails.

BIODATA

Nama : Ezza Wandila Putri

Tempat/ Tgl. Lahir : Ranah Pantai Cermin, 15 Mei 1994

Alamat : Ranah Pantai Cermin Kec. Sangir Batang Hari, Solok Selatan

Hobby : Membaca, menulis, nonton kartun

Cita-cita : Pengarang

Nama orang tua

Ayah : Darmawan (alm)

Ibu : Hasniwaty

Prestasi

Ø Juara 1 Lomba Olimpiade Sains Tingkat Kecamatan

Ø Juara 2 Lomba Olimpiade Sains Tingkat Kabupaten

Ø Juara 1 Cipta Cerpen Tingkat Kabupaten dan Provinsi

(Maghriza Novita Syahti)

 

Aku Sulit Tidur Juli 22, 2008

Diarsipkan di bawah: OPie belajar Psychology, dunia P'Mails — OPie ... @ 5:49 am
Tags: ,

Aku Sulit Tidur

Penyembuhan insomnia (kesulitan tidur) bergantung kepada seberapa seriusnya gejala yang dialami. Jika hanya insomnia ringan, sebentar-sebentar saja, maka pengobatannya tidak begitu berarti. Cukup dengan mengubah jadwal tidur atau bangun sehingga kembali ke keadaan normal.

Salah satu upaya lebih lanjut yang bisa kita lakukan adalah menjalani “ritual tidur” yang sehat. Tetapkan waktu untuk melakukan aktivitas yang merilekskan tubuh. Misal, berjalan setiap pagi atau sore, mandi air hangat, atau minum susu menjelang tidur. Latihan mengendurkan, pijatan, atau meditasi termasuk teknik relaksasi yang bisa diterapkan. Ketika menjadwal ulang jam biologis tubuh kita, tak ada salahnya jika berjemur di pagi hari.

Untuk kondisi yang lebih parah, bagaimana pun, kita belum cukup mengandalkan beberapa usaha di atas. Usaha lebih lanjut yang membutuhkan waktu harus dilakukan.Nah, sebelum pengobatan, sebaiknya kita mengetahui dan mengobati hal-hal yang menjadi pemicu insomnia selama ini. Tak ada salahnya kita mengamati, apakah gejala-gejala yang kita alami menyangkut psikologis atau fisik? Jika masalahnya terletak pada fisik, artinya kita menderita suatu penyakit atau kelainan tertentu, harus disembuhkan terlebih dahulu. Jika insomnia dikarenakan tekanan kejiwaan, stres, kecemasan, dan masalah lainnya, hilangkan dulu masalah-masalah tersebut. Setelah itu, barulah insomnia dapat ditanggulangi.

Penyembuhan insomnia kronis melingkupi penggunaan obat-obatan dan pendekatan perilaku. Untuk menggunakan obat-obatan, sebaiknya sesuai dengan bimbingan dokter atau spesialis tidur. Pengobatan mungkin diperlukan ketika penyebab insomnia telah diketahui secara pasti dan cara terbaik untuk menyembuhkannya melalui obat-obatan. Kemudian, jika kesulitan tidur benar-benar menimbulkan masalah ketika melaksanakan aktivitas sehari-hari, pendekatan perilaku tidak efektif digunakan. Untuk menggunakan obat-obatan, insomnia yang diderita adalah yang datang sewaktu-waktu atau jangka pendek. Ketika melakukan penyembuhan dengan obat-obatan, sebaiknya perhatikanlah beberapa hal, seperti dimulai dengan dosis efektif serendah mungkin, digunakan dalam jangka pendek, pemakaian dosi bertahap (jika mengambil dosis janka panjang), digunakan dengan praktek tidur yang baik.

Bagi yang kurang menyukai obat-obatan, beruntunglah Anda karena para ahli tidur telah mengembangkan variasi pendekatan perilaku. Tetapi, gabungan antara penyembuhan dengan obat-obatan dan pendekatan perilaku diketahui berhasil dengan baik pada banyak orang.

Pendekatan perilaku ini bisa dilakukan dengan berolahraga secara teratur, sekitar enam jam sebelum merasa mengantuk. Kebiasaan tidur siang sebaiknya juga dihindari sehingga tidak mengurangi tuntutan tidur malam. Menjalani ritual tidur yang sehat, seperti pergi tidur dan bangun sesuai jadwal yang sama setiap hari dan menuntaskan segala kecemasan dan kekhawatiran. Oya, jangan lupa buartlah lingkungan tidurmu senyaman mungkin. (Maghriza Novita Syahti)

*Halaman Untukmu P’Mails edisi 147

 

HP di Sekolah : Silent, Please! Juli 16, 2008

Diarsipkan di bawah: dunia P'Mails — OPie ... @ 7:28 am

Laporan: Monica Florida Johan/ SMA N 14 Padang, Oktorilla Fiskasianita/ SMA N 2 Padang

Satu persatu peraturan seputar dunia pendidikan muncul ke permukaan. Kalau sebelumnya pelajar heboh dengan larangan membawa handphone berkamera ke sekolah, kali ini benar-benar tidak ada toleransi. Berkamera atau tidak, handphone tak boleh dibawa ke sekolah.
Aturan tersebut diharapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Padang agar tertera pada tata tertib sekolah. Dinas Pendidikan Kota Padang sudah mengeluarkan aturan untuk menertibkan siswa SMP, SMA, SMK sederajat yang menggunakan alat komunikasi selular handphone yang memiliki kamera dan Bluetooth. Larangan itu dikeluarkan didasari atas banyak siswa yang menggunakan alat komunikasi canggih tersebut untuk kepentingan yang negatif sehinggga menganggu pelajaran di sekolah.

Handphone kini tak lagi barang mewah. Siapa pun punya, tak terkecuali pelajar. Seberapa penting kah sebuah handphone untuk pelajar?
Melisa Fitri Yani, SMA N 14 Padang, angkat bicara. Baginya, handphone adalah alat komunikasi, untuk menelepon, sms, dan internet. Pendapat Melisa ini disetujui oleh Alven Stoner dari SMA N 2 Bangko. Menurutnya, kegunaan terpenting dari ponsel adalah menghubungi orang yang ia rindukan. Selain sms, menelepon, dan internet, ternyata alat komunikasi ini juga digunakan untuk main game oleh Alfajri Putra, SMA N 4 Padang. Maria Ulfa, yang kini sudah terdaftar sebagai siswa di SMA N 10 Padang mengaku handphone-nya sudah seperti urat nadi. “Aku nggak bisa hidup tanpa handphone.” Begitu jawab alumni SMP N 13 Padang ini. Fauqal Anhar yang kini bersekolah di SMA N 1 Padang juga ikut berpendapat. “Kalau nggak ada handphone, aku nggak bisa komunikasi sama orang tua dan pacarku,” ujarnya.
Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, Arif Firmansyah, dari SMP N 13 Padang serentak menjawab fungsi utama handphone untuk mereka. “Untuk alat komunikasi, supaya orang tua bisa mengontrol keberadaan kita, bisa dapat kenalan baru, banyak deh pokoknya.”

Rancangan Undang-Undang agar pelajar tidak diperbolehkan membawa handphone diperbincangkan di mana-mana. Perilaku pelajar dewasa ini semakin menjadi-jadi. Tak sedikit pelajar yang ketahuan menyimpan video dan foto yang tidak senonoh di handphone. Belum lagi, handphone juga digunakan untuk tukar-tukanran jawaban ujian. Apa, ya, pendapat teman-teman kita menanggapi masalah ini. Apakah mereka salah satu dari pelajar tersebut?
Maria Ulfa menilai negative pelajar yang melakukan penyimpangan tersebut. Ia mengakui, penyimpangan tersebut memang sering terjadi, namun tergantung invidu masing-masing menyikapinya. Fauqal setuju. Menurutnya, penyimpangan ini tergantung orangnya, mau digunakan untuk hal yang positif atau negative. “TIdak semua pelajar yang menyimpan foto atau video porno di handphone-nya.” Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, dan Arif Firmansyah memandang penyimpangan ini merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja. Melisa lain lagi. Pendapatnya, penyimpangan ini terjadi karena ketidakmampuan remaja dalam menghadapi perkembangan teknologi sebagai hal yang positif.

Rancangan Undang-Undang tersebut sudah mulai diterapkan oleh beberapa daerah, seperti Pekanbaru, Samarinda, Mataram, bahkan Kota Padang sendiri. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Pekanbaru, Syahril Manaf menawarkan solusi untuk kebijakan ini. Tidak mungkin larangan diberlakukan tanpa ada solusi dari pihak sekolah. Semisal larangan bawa HP, solusinya pihak sekolah harus menyediakan fasilitas telepon umum. Pemerintah Samarinda pun tak mau kalah. Pemerintah akan mengunjungi sekolah-sekolah dan menggelar razia dadakan. Sedangkan pemerintah kota Padang akan mencantumkan larangan tersebut sebagai salah satu tata tertib sekolah.
Bagaimana ya pendapat teman-teman pelajar tentang larangan membawa handphone ke sekolah? Anugerah atau musibah?

Wulandari J. Z dari SMK 2 Pariaman menyatakan setuju dengan larangan tersebut, Menurutnya, penggunaan handphone di sekolah dapat merusak proses belajar mengajar. Alasan mengganggu PBM ini juga disampaikan Syafri Kurniawan dari SMK N 8 Padang. “Sebagian siswa sudah menyalahgunakan handphone,” ungkapnya. Aril Irwansyah dari SMA N 6 Padang sependapat. Sekolah hanya beberapa jam, waktu itu harus dimanfaatkan dengan baik. Jadi, menurut Aril, handphone di sekolah tak ada gunanya. Andre Febra dari Rilma dari SMAN 2 Lubuk Basung juga setuju. Membawa handphone ke sekolah akan mengganggu belajar. “Sedang asyik belajar, eh tahunya ada yang sms atau Cuma missed called. Apalagi kalau sedang ulangan, bisa-bisa nilaiku jeblok karena nggak konsentrasi,” ungkap dua pelajar ini. Sesria Arima, SMP N 3 Padang mendukung program pemerintah ini. Menurutnya, pemerintah pasti mempunyai alasan dan tujuan untuk kebaikan kita bersama. Dila Okta Malina dari SMA N 2 Padang mengatakan bahwa larangan membawa handphone itu adalah suatu keputusan yang sangat bagus. Ia tidak ingin nama sekolahnya buruk hanya karena kelakuan teman-temannya tentang penyalahgunaan alat komunikasi canggih ini.
Jehan Khairina, SMP N 8 Padang ikut bicara. Memang keputusan ini ada pro dan kontranya, keputusan ini lebih banyak manfaatnya daripada ruginya. Ia berharap teman-teman lainnya sependapat dengannya.

Seperti kata Jehan, ada yang pro, tentu ada yang kontra. Berikut pendapat teman-teman kita yang menolak larangan membawa handphone ke sekolah.
Alven Stoner protes. “Nggak bisa dong, kalau ada keperluan mendadak gimana?” Maria Ulfa tawar menawar dengan kebijakan ini. Menurutnya, handphonoe berkamera memang harus ditertibkan, tapi tak ada salahnya kalau membawa handphone tanpa kamera dan Bluetooth. Fauqal lebih hitung-hitungan. Ia berpendapat, larangan ini melanggar hak asasi karena handphone dibeli dengan uang masing-masing. Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, dan Arif Firmansyah hanya melontarkan pertanyaan, “Kenapa satu yang berbuat, semua kena getahnya?”
Rara dari SMKNT Padang malah mengkhawatirkan dampaknya. “Kalau dilarang bawa handphone, takutnya pelajar jadi gaptek.”
Kesimpulannya, pada saat sekarang ini para pelajar sedang maraknya menggunakan HP selain alat sebagai alat komunikasi juga digunakan sebagai alat untuk melihat hal-hal yang belum sepantasnya untuk dilihat alias gambar atau video porno. Hal ini nantinya dapat menyebabkan banyaknya generasi muda, khususnya pelajar saat sekarang ini menjadi rusak dan melakukan tindakan yang menyimpang.
Selain itu, Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah menjadi tidak terganggu karena saat sekarang ini pelajar sering menggunakan HP dalam PBM. Akibatnya, konsentrasi belajar menjadi terganggu. Oleh karena itu, larangan ini sangat tepat sekali untuk diterapkan di sekolah-sekolah.
Sisi Negatif dari larangan ini juga ada, seperti terhambatnya komunikasi pelajar dengan keluarga ketika pelajar berada di sekolah, maksudnya kalau nantinya ada kejadian mendadak dari keluarga yang perlu diberitahukan kepada anaknya (pelajar) yang sedang berada di sekolah menjadi sangat sulit dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Serta menghilangkan fungsi HP sebagai alat komunikasi yang paling efektif dalam kehidupan pelajar, khususnya ketika sedang berada di sekolah.

Begitu banyak yang mendukung dan menolak kebijakan ini. Tapi masih perlu kita tanyakan lagi, seberapa pentingkah larangan itu bagi pelajar?
Melisa mengaku, larangan itu sangat penting untuk hasil belajar yang lebih baik. Pentingnya larangan ini juga disetujui teman-teman lainnya. Mereka hanya berharap proses belajar mengajar tidak terganggu hanya karena penyalahgunaan handphone. Larangan itu diharapkan akan memaksimalkan proses belajar mereka agar mereka bisa menjadi orang yang berguna bagi Indonesia, agama, dan orang lain.
Banyak yang mendukung kebijakan ini, banyak pula yang menolak. Banyak yang mengatakan bahwa larangan ini tidak penting. Contohnya saja, Alfajri Putra dan Alven Stoner. Bagi mereka, handphone sudah merupakan kebutuhan primer manusia, termasuk pelajar. Maria Ulfa sependapat dengan Alfajri dan Alven. “Larangan itu nggak penting banget. Merugikan kita yang tidak bersalah,” ujarnya. Fauqal beda lagi. Menurutnya, tindakan ini tidak efektif. Semakin dilarang, maka manusia akan semakin berniat untuk melanggarnya. “Yang terpenting adalah kesadaran diri sendiri,” ungkap siswa XII IPA ini.

Ternyata banyak juga yang kurang setuju. Kira-kira, solusi seperti apakah yang mereka tawarkan untuk mengatasi penyimpangan ini?
Melisa Fitri Yani menjawal simple. “Nggak boleh bawa handphone kamera!” Maria Ulfa kali ini setuju dengan Melisa. Pelajar tetap dibolehkan membawa handphone, tetapi solusinya adalah sanksi yang tegas bagi mereka yang tertangkap melakukan penyimpangan. Tidak tegas dan sanksi ini juga ditawarkan Rahmadanil Akbar, Dirga Pryono Putra, dan Arif Firmansyah, tiga serangkai dari SMP N 13 Padang.
Lagi-lagi Alven dan Alfajri sepakat, handphone harus dinonaktifkan pada jam pelajaran. Larangan seperti itu saja cukup untuk mereka. Larangan sederhana ini juga dipaparkan Fauqal. “Nonaktifkan saja pada jam pelajaran agar tidak mengganggu.”

Tak hanya pelajar yang menanggapi masalah ini. Orang tua pun ternyata antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan para reporter. Yuk, kita simak!
Tak bisa dipungkiri, penyalahgunaan handphone tak lepas dari peran orang tua. Perlu kita ketahui alasan orang tua membelikan handphone untuk anak-anak mereka.
Ibu May R. B Johan menjawab singkat, “Untuk komunikasi dan mengontrol anak-anak.” Sepertinya para orang tua sepakat dengan jawaban Ibu May.
Seperti hangatnya pembicaraan pelajar, orang tua tak kalah semangat ketika menanggapi munculnya Rancangan Undang-Undang tentang larangan membawa handphone ke sekolah. Ibu Jamilah, seorang ibu rumah tangga memikirkan positif negatifnya. Menurutnya, di satu sisi bagus karena tidak ada lagi kecemburuan social di antara pelajar. Di sisi lain, saya tidak dapat mengetahui keberadaan anak-anak saat pulang sekolah.” Drs. Mas’ud, Wakasek SMP N 13 Padang menyatakan bahwa dirinya setuju dengan RUU tersebut, namun dengan konsekuensi yang jelas. Ibu Darlina, guru matematika di SMP N 13 Padang lain lagi. Menurut beliau, jika orang tua sudah mengontrol dan mendidik anaknya dengan baik di rumah, RUU itu tidak perlu.
Bagaimana ya pendapat orang tua kita jika RUU tersebut benar-benar diberlakukan di Sumater Barat?
Ibu Darlina mengharapkan keterlibatan seluruh pihak dalam penegakan peraturan ini. Bapak Mas’ud setuju. Ia sangat mendukung diberlakukannya aturan tersebut. “Sangat membantu untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang buruk.”
Berbeda dengan kedua orang tua di atas, Ibu May dan Ibu Jamilah mengaku keberatan dengan diberlakukannya aturan tersebut. Alasannya pun kompak. “Tidak bisa mengawasi keberadaan anak-anak.”
Jika memang begitu, larangan seperti apa sih yang cocok menurut orang tua kita?
Keempat responden kita sepakat dengan larangan tidak mengaktifkan handphone ketika PBM sedang berlangsung. Selain itu, sanksi yang tegas juga harus diberlakukan baik oleh pihak sekolah maupun orang tua jika anak-anak sudah melakukan penyimpangan. Ibu Jamilah mengusulkan untuk tidak memberikan handphone kamera pada anak. “Untuk menghindari penyalahgunaan,” ungkap Ibu kelahiran 1955 ini.
(Maghriza Novita Syahti)

*Laporan Utama P’Mails edisi 146