^Katakan dengan Kata^

it’s the freedom of me

Musyawarah Besar HIMA Psikologi 2008 Juni 22, 2008

Diarsipkan di bawah: school news — OPie ... @ 3:49 am
Tags:

Ini kali pertama saya ikut Musyawarah Besar (Mubes). Ini kali pertama pula saya tahu bahwa Mubes itu tak jauh beda dengan sidang pleno DPR.

14 Juni 2008,

Saya datang tepat waktu, berusaha menghapuskan stereotype tentang masyarakat Indonesia. Saya duduk di urutan kedua, berniat untuk sungguh-sungguh mengikuti Mubes ini. Tapi, karena hanya saya dan Gressa yang duduk di urutan itu dan kami menjadi urutan terdepan, saya kabur ke deretan belakang, di mana teman-teman saya duduk.

Sidang dibuka oleh Presidium sementara. Diawali dengan membacakan draft tata tertib Musyawarah besar Himpunan Mahasiswa Psikologi dan mengesahkannya atas kesepakatan bersama. Setelah disepakati, saatnya memilih Presidium 1, Presidum 2, dan Presidium 3 yang nantinya akan memimpin sidang ini sampai selesai.

Lima belas nama sudah tertera di depan. Tiga orang di antara 15 bakal calon itu nantinya akan bertugas memimpin sidang. Musibahnya sodara-sodara, ada nama saya di antara 15 nama itu. Ya ampunsaya benar-benar kalap, nggak tau harus berbuat apa, sampai lupa bernapas. Satu pertanyaan yang ada di kepala saya waktu itu, Apa sih yang ada di otak teman-teman saat mencalonkan saya menjadi Presidium Sidang? Tampaknya mereka hanya ingin melihat tampang saya yang goblok kebingungan saat duduk di depan nantinya. Heranpinter nggak, goblok iya.

Tapi, masih bisa mengundurkan diri kan ya? Si Fitra aja mengundurkan diri, tuh! Saya tidak bersedia menjadi presidium sidang. Begitu ucapnya saat mengundurkan diri. Pengunduran dirinya diterima karena salah satu criteria Presidium Sidang adalah bersedia menjadi pimpinan sidang.

Untuk mengefisienkan waktu, Presidium Sidang sementara mengambil kebijakan. Masing-masing angkatan memilih satu wakilnya untuk menjadi Presidium Sidang, tentunya dari nama-nama yang sudah dicalonkan. Memang, pada awalnya ada yang tidak setuju. Kak Ari salah satunya. Ia mengajukan dua orang dari 07. Tidaaaaakkkdia menyebutkan nama saya!! Apa-apaan ini? Untung saja, setelah dirasionalkan. Kebijakan tetap seperti semula.

Kak Loren menyemangati saya untuk duduk di meja presidium itu. Saya akui bahwa saya tidak mengerti manajemen sidang. Si kakak kemudian mengelaskan kepada saya tentang manajemen sidang secara garis besar. Kamu liat aja presidium sementara. Tugas kamu kan Cuma mengendalikan sidang. Keputusan di musyawarah kok, jelasnya. Saya mengangguk, entah mengerti entah tidak. Saya tidak terlalu peduli karena saya yakin Arif Maulana Rahman yang akan mewakili 07. Iya, si Arif teman SMA saya yang akrab dipanggil Bolenk.

Skorsing sidang dicabut, masing-masing angkatan sudah kehabisan waktu untuk merembukkan siapa wakilnya. Sidang dilanjutkan, palu diketuk. Kakak-kakak dari 05 mantap dengan pilihannya, Mayang Citra Insani. Angkatan 06 juga sepakat memilih Nofwandi Eka Putra, yang kini bertugas sebagai presidium sidang sementara. GIliran 07, semua diam. Kenapa? Karena kita belum memutuskan siapa yang akan dipilih. Presidium Sidang sementara berkali-kali melontakan kalimat yang sama. Silahkan presidium sidang dari 07 mengambil tempat.

Akhirnya seseorang bersuara. Mohon bicara, Pimpinan Sidang. Kami dari 07 memilih Arif Maulana Rahman. Semua tepuk tangan. Semua mata mencari-cari keberadaan sosok Arif. Arif lagi makan, bisik di belakang.

Tiba-tiba Gumi berdiri. Mohon bicara, Pimpinan Sidang. Kami ralat, berhubung Arif tidak disiplin, kami memilih Maghriza Novita Syahti.

Hah?? Apa, MI?? Saya?? Nggak salah dengar nih? Presidium sementara mempersilahkan saya mengambil tempat.

Ngundurin diri nggak, ya? Pie nggak memenuhi criteria ke tujuh nih. Memahami manajemen sidang. Lagian, saya yakin nggak satu pun dari teman-teman 07 yang paham ini, begitu suara hati saya di tengah suara-suara [penyemangat itu.

Mohon bicara, Pimpinan Sidang. Saya berterima kasih atas kepercayaan teman-teman. Saya akui, saya hanya sebatas mengetahui manajemen sidang, belum memahaminya. Tapi jika saya diberikan kesempatan untuk belajar, saya bersedia menjadi Presidium Sidang 3.

Ya, silahkan menempati kursi Presidium Sidang 3.

WuiiihhhGila! Saya serasa di sidang DPR atau di pengadilan.

Sidang dilanjutkan. Presidium Sidang 1, Nofwandi Eka Putra, ambil alih. Sidang pleno 1 ini membahas tentang Anggaran Dasar HIIMA. Saya mulai mengamati caranya memimpin sidang.

Setelah sidang pleno 1 selesai, dilanjutkan dengan sidang pleno 2 tentang Anggaran Rumah Tangga HIMA.

Palu diambil alih oleh Presidium Sidang 2.

Huhhgiliran Kak Mayang memimpin sidang. Saya kaget setelah Bab 4 selesai.

Palu diambil alih oleh Presidium Sidang 3.

Saatnya saya memimpin sidang. Dalam hati saya berdoa, semoga selama saya memimpin, tidak ada sesuatu yang berat, semua lancar.

Palu diterima dari Presidium Sidang 2. Sidang dilanjutkan.

Tok! Tok! Palu diketuk dua kali.

Hufffsidang berjalan lancar. Terima kasih, Ya Allah. Deg-degan saya. Tapi besok, masih ada sidang pleno 3 tentang GBHOK.

Eh, ternyata saya punya fans. Kak Ezy dan teman-temannya histeris.

Kak Ezy : Ya ampuuunn.Ezy pengen punya wibawa kek Opie. Opie orangnya wibawa banget ya

Saya : *bingung-kaget*

15 Juni 2008,

Ini hari kedua Mubes. Persidangan hari ini membahas tentang GBHOK. Pada bab Komunitas, tiba-tiba Kak Helen angkat bicara.

Untuk apa kita membahas sampai pada Bab Komunitas? Yang perlu dipermasalahkan sekarang adalah tentang kelanjutan HIMA. Masih perlu atau tidak?

Begitu kira-kira pertanyaan Kak Helen. Saya mulai mencium bau konflik. Ternyata benar dugaan saya, sodara-sodara! Pertanyaan itu memunculkan konflik yang berlarut-larut. Semua mempermasalahkan ketidakhadiran teman-teman lainnya.

Ada yang bilang kalau Mubes tahun lalu berjalan lancar. Mayoritas anak-anak 06 hadir. Nah, bagaimana dengan 07? Owhlagi-lagi.

Saya membalikkan papan nama Presidium Sidang 3 yang berada tepat di depan saya.

Saya mewakili teman-teman dari 07, memohon maaf kepada kakak-kakak sekalian atas ketidakhadiran teman-teman. Tapi, tolong dipahami bahwa kami ada di sini untuk kelanjutan HIMA.

Sepertinya semua sudah tidak berpikiran jernih lagi. SIdang ditunda. Kehadiran peserta sidang setelah skorsing waktu dicabut akan menentukan nyawa HIMA berikutnya. Begitu kesepakatannya.

Saya seret teman-teman yang ada di kost-an untuk menghadiri Mubes. Hihihihi

Hasilnya, semua peserta sidang hadir. Artinya, HIMA masih akan memperjuangkan hidupnya.

Konflik berikutnya adalah criteria calon Ketua HIMA. Permasalahannya adalah ditentukan IPK nya atau tidak. Menurut saya pribadi, ya. Karena saya tidak ingin membebankan tugas lagi kepada siapa pun ia yang nantinya akan terpilih. Jika dalam akademis saja dia sudah terbebani dan tidak bisa mengatasinya, bagaimana akan dibebankan tugas lagi? Di sisi lain, jika ia memiliki IPK yang tidak sesuai criteria, bisa jadi ia akan lebih rajin kuliah karena tanggung jawab sebagai Ketua HIMA.

Menghadapi permasalahan ini, dengan cara musyawarah tidak menemukan kata mufakat. Lanjut kepada Lobi, juga tidak ada kesepakatan. Langkah terakhir adalah voting. Okeh, voting! Ternyata hasilnya adalah tidak setuju dengan penentuan IPK sebagai criteria calon Ketua HIMA.

Bagi saya tidak masalah, toh calon yang terpilih tidak ada yang bermasalah di atas IPK. Akademisnya terhitung baik.

Sidang dilanjutkan dengan pemilihan Ketua HIMA. Hasilnya, Ketua HIMA terpilih adalah Abrar Hidayat dan Hari Kurniawan sebagai wakilnya. Untuk pemilihan pengurus, Ketua dan Wakil terpilih diberikan waktu paling lambat 15 hari setelah pemilihan. Selamat, ya! Semoga membawa perubahan yang lebih baik!

 

4 Responses to “Musyawarah Besar HIMA Psikologi 2008”

  1. Oommu Says:

    Nggak nyangka bisa ngetok palu juga. Wah, om jadi senyum nih liat fotonya yang…, yang…. apa yah, imut-imut. Hati-hati ya, jarinya keketok. Selamat dan hebat untukmu, ya….

  2. OPie ... Says:

    Hehehehe…makasih Om. Waktu itu juga rada takut…jangan-jangan abis sidang, Opie cacat fisik. Kehilangan jari…hihihiihhi.
    Tapi, untungnya gak…jadi jari saya masih utuh.

  3. gressa Says:

    pie….
    pnampilannya waktu itu bagus, sampe2 pie banyak dikenal orang
    heheheheh

  4. OPie ... Says:

    hu uh…jadi heran.
    Yang biasanya kalo OPie negor senior, “Kak…,” trus dijawab, “Iya, Dek.”
    Sekarang, kalo OPie negor siapa pun itu, “Kak…,” trus dijawab, “Iya, Opie.”

    hohhoho…ternyata saia dikenal. Ajang popularitas juga ternyata.

    @Gressa: Tengkyu yak, dah kasi semangat!


Leave a Reply