Katakan dengan Kata

Maghriza Novita Syahti

Ketika Mama Menonton Teater

Festival Teater Remaja 2011 digelar di Taman Budaya Sumatera Barat. Sudah sejak seminggu lalu, aku mengajak Mama dan Papa menonton penampilan teater-teater ini. Paling tidak, Teater Nan Tumpah yang tampil Kamis (8/12) malam. Tak ada jawaban pasti dari Mama seminggu lalu hingga aku membiarkannya berlalu. Komentar Mama baru muncul ketika aku memperlihatkan undangan dari Teater Nan Tumpah. Tertulis di sana: Kepada Kak Opie dan keluarga (-.-”) *mirip undangan baralek* :D

“Eh, ini baju mama! Yang warna putih, yang ada hijau bulat-bulat. Pas ya bajunya? Ini baju mama juga nggak ya?”

Mama buru-buru mengambil kacamata. Membuka undangan itu perlahan dan membacanya dengan serius.

Kamis malam aku bersama Mama dan Papa akhirnya menuju Es Durian ‘Iko Gantinyo’. Loh? Hehe. Iya, baru setelahnya kami ke Teater Utama nonton teater :P Pertunjukan dimulai, Mama mulai serius menontonnya. Sungguh, saya menunggu-nunggu komentar Mama yang baru sekali ini menonton teater dengan begitu serius.

Tiga menit kemudian,

“Baju mama munculnya di awal tadi aja ya?”

Sepuluh menit kemudian,

Asailah, Kakek ketahuan!”

“Selingkuh mungkin tu….”

Komentar Mama mirip-mirip dengan komentar ketika menonton sinetron. (-.-”)

Ketika pentas selesai, seluruh kru Teater Nan Tumpah tampil di panggung. Saya benar-benar merasa berada di masa 80-an karena mereka mengenakan pakaian pada masa itu dan dilengkapi dengan tata panggung yang begitu jadul. Mama mengarahkan telunjuknya ke panggung, menghitung.

“Berapa tu ya, baju mama?”

Saya kira tidak semua baju Mama yang dipakai malam itu. Ya, beberapa helai baju Mama ketika remaja menari-nari di panggung malam itu.

“Bagus ya baju mama kalau ada di panggung. Yang bagus itu kreativitas mereka sebenarnya. Mama bangga.”

Menuju keluar teater utama, Mama mencolek saya sambil berkata: “Kreativitas itu penting biar kita tetap ada.”

Saya curiga, Mama menyindir, menegur, atau memotivasi saya ya?

 

Tidak ada Komentar »

Perpustakaan Mengesalkan di Hari Rabu

Rabu. Jika tak ada seminar dan rencana untuk penyuluhan Posyandu Double Care di Padang Panjang, seharusnya saya berada di Padang.

Rabu tak ada jadwal kuliah. Maka, saya, Ant, Rani, dan Jerry menuju Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Menurut saya, perpustakaan ini sangat nyaman untuk membaca. Pemandangan dan udaranya bagus. Namun, masih ada beberapa hal yang membikin saya dan teman-teman kesal di hari Rabu itu.

#1

Jika ingin masuk ke perpustakaan, tentunya kita harus menitipkan barang. Peraturan ini termasuk salah satu yang tidak saya suka. Artinya, saya harus membawa laptop, charger, handphone, buku catatan, pulpen, dan dompet. Tanpa tas. Kedua tangan saya ini harus memagut semua benda-benda tersebut hingga menemukan meja baca yang kosong.

Rupanya, tak hanya saya yang kesal di tempat penitipan itu. Rani tahu betul peraturan, tak boleh mengenakan jaket di perpustakaan. Ia sudah bersiap melepas jaketnya, namun petugas masih memintanya untuk melepaskan jaket. Tambahan, dengan cara yang tidak sopan secara verbal.

#2

Tempat buku berpindah. Dengan semangat saya menuju rak buku psikologi. Namun, yang saya temui adalah buku agama. Seharusnya, kategori buku itu memang ditaruh di atas agar dapat dilihat dari mana pun kita berdiri. Di sini, kategori buku ditempel di rak buku. Setelah menelusuri rak-rak buku, rupanya buku psikologi ada di sudut ruangan, buku pendidikan di sebelah kanan.

Bertanya kepada petugas perpustakaan tentu akan lebih memudahkan. Namun, saya hanya tak ingin mengganggu mereka yang mengobrol sambil sesekali tertawa cekikikan.

#3

Karena kami berkelompok dan ingin presentasi, serta membutuhkan banyak colokan listrik untuk men-charge laptop, maka kami ingin menggunakan ruang baca grup. Saya pun meminta izin kepada petugas perpustakaan.

“Pak, saya dan teman-teman saya boleh pakai ruang baca grup?”
“Buat apa? Mau ngapain emangnya?”
“Kami mau mendiskusikan bacaan dan presentasi, Pak.”
“Oh.”
“Boleh, Pak?”
“Boleh.”

Setelah satu jam kami menggunakan ruang baca grup itu, datanglah seorang ibu pegawai perpustakaan. Numpang makan. Beberapa menit kemudian, ibu yang sama datang lagi. Numpang tidur.

Beberapa jam kemudian, ketika saya dan Rani kembali dari meletakkan buku-buku yang kami ambil ke tempatnya, Ant cemberut. Ia tampak kesal duduk di luar ruang baca grup. Lengkap dengan seluruh peralatan saya, Rani, dan Jerry.

Saya lihat ke dalam ruang baca grup, ada seorang ibu petugas perpustakaan yang sedang shalat. Ant pun memulai ceritanya.

Ibu petugas: Kalau mau baca di luar aja!
Ant: Tadi diskusi juga bu sam teman-teman. Udah minta izin juga.
Ibu petugas: Sama siapa minta izinnya?
Ant: Sama bapak-bapak ibu-ibu yang di sana
Ibu petugas: Kalau baca, tempatnya di luar. Di sini tuh tempat shalat, makan.

@#@$%#^%%#^$$%&$%!!!
Jelas-jelas tertulis di depan ruangan itu : RUANG BACA GRUP.

Rasanya saya perlu memberitahu ibu itu. Mushola itu ada di lantai satu, sebelah kiri. Peraturannya tak boleh membawa makanan ke dalam perpustakaan, apalagi memakannya. Dan fasilitas perpustakaan perlu dimanfaatkan sesuai dengan keperluannya.

2 Komentar »

Tes dan Ceritanya

# Tes 1

Semester ini memang banyak sekali mata kuliah tes. Mesti diwaspadai. Kamis (20/10) lalu saya sudah menjadi observer untuk salah seorang teman saya dalam praktikum TAT nya. Saya merasa seperti menonton televisi di balik kaca hitam itu. Sepuluh kartu bergambar itu diceritakan lumayan lama oleh si testee. Tangan saya memegangi perut, si cacing sesekali bersuara.

Hingga dalam catatan observasi saya, ada satu dua simbol yang saya tulis berbentuk makanan. Hehehe.

# Tes 2

Senin (25/10) lalu giliran saya yang jadi tester TAT. Saya lumayan berjuang demi jadwal dan testee :(
Ketika pendaftaran jadwal dibuka, saya sedang tidak di Sumatera Barat. Mahasiswa-mahasiswa angkatan 2008 dan 2009 yang langganan jadi testee mahasiswa 2007 pun hampir semuanya yang sudah ada testernya. Bagaimana dengan saya?

Saya pun mendadak ditelepon Anshari tentang kabar praktikum ini. Dia bilang, Bu Yoli, dosen TAT, suruh telepon, tanyakan kapan jadwal praktikum saya. Tentunya, sebelum itu saya harus mencari testee dulu dan memastikan jadwalnya kosong ketika jadwal praktikum itu.

*Testee 1: testee tes Pauli semester lalu. Sudah diambil orang. Hwaaa…

*Testee 2: mahasiswa 2009, dan ternyata juga sudah punya tester.

*Testee 3: mahasiswa 2009, yang kosannya sebelahan dengan kos-kosan saya. :D Dan, akhirnya! Bersedia.

Setelah saya sampai di Bukittinggi dan kembali ke kampus, saya pun mengonfirmasi kembali testee saya. Jawabannya bikin saya mendadak autis, sodara-sodara!
“Kak, maaf, kuliah full ternyata sehari itu. Dosennya baru ngabarin.”

Jadwal praktikum saya hanya tinggal dua hari lagi. Sempat berniat saya membawa testee dari luar Psikologi UNP. Tapi, ternyata, satu hari sebelum jadwal praktikum, testee saya kembali mengabari bahwa kuliahnya batal. Itu artinya dia bisa jadi testee! Horeee!

Ketika saya praktikum, saya memastikan diri saya bahwa ‘bukan saya yang jadi testee, jadi jangan memikirkan cerita apa-apa ketika melihat kartunya, fokus ke testee!’

#Tes 3

Lagi-lagi saya shock. Ada role play Rorschach berkelompok beberapa hari lagi. Saya segera menuliskan nama saya. Dan saya sekelompok dengan Gumi, Yona, Reni, dan Fauziah.

Berhubung saya baru dapat handout dan tidak masuk minggu lalu ketika belajar membuat kartu Ro, saya menawarkan diri menjadi testee. Hehe. Cari aman.

Semula teman-teman saya meminta saya menjadi tester. Tapi, daripada hasilnya aneh-aneh karena saya belum menguasai, saya menolak. Dan ternyata, hasilnya lebih aneh ketika saya menjadi testee. Hehe. Responnya kebanyakan. Maafkan saya, teman, akan membikin kita repot dalam menulis laporan dan skoring. Apalagi ketika inquiry, saya banyak mereject jawaban.

Hehehe.

#Tes 4

Setelah minggu lalu kuis Ro, hari ini mid test Ro. Saya benar-benar kehilangan konsentrasi belajar setelah gempa 7,2 SR itu. Hati tak tenang karena tak mendapat kabar, selain kabar telepon orangtua saya di Padang. Saya butuh televisi dan internet ketika itu. Tapi, sayangnya malam itu saya menginap di kos-kosan teman saya dan tak bawa modem, tak ada televisi.

Apalagi banyak gempa susulan setelah itu. Kasihan dengan mereka, terutama anak-anak, yang mengalami trauma. Teringat saya dengan anak-anak korban gempa 30 September 2009 lalu.

Ketika saya dan teman-teman ke sekolah dasar, bermain bersama mereka. Saya ingat, salah seorang dari siswa kelas dua SD itu bilang ke teman-temannya di depan kelas: “Kita boleh tak punya rumah lagi, sekolah kita boleh runtuh, kita boleh tak punya orangtua ataupun saudara, tapi kita tidak boleh kehilangan semangat belajar.”

Oke, kembali ke TES. :)

Saya, Fina, Ant, Rani, Umi, dan Cia kembali ke Ro. Kami melihat kembali gambar-gambar dari kesepuluh kartu itu. Tiba-tiba, banyak sekali respon yang muncul dari saya. Ada penambahan respon. Hehehe. Dan tiba-tiba banyak di antara sepuluh kartu itu yang mendadak mengerikan. Banyak sekali gambar-gambar horor di sana. Karena terlalu banyak gambar, saya kesulitan mengotak-kotakkan gambar I, II, III, dan seterusnya di pikiran saya. Semuanya melebur.

# Tes 5

Saatnya mid Ro! Banyak catatan untuk diri saya ketika mid test ini selesai.

Hafalkan nama-nama asing.
Proses recall saya bermasalah. :D Padahal saya sudah hafal betul sejarah Ro itu. Justinus Karnel di Laboratorium Tubingan Jerman. Saya hanya menulis Laboratorium T….. Jerman. XD *Lupa*

Tubingan itu serasa nama tempat di Indonesia, ya? Hehe. Masalah nama asing ini juga dialami oleh tiga orang teman yang lembar jawabannya saya periksa. Yang seharusnya Emil Oberhelzer, dia malah nulis Hauhelherzel/ Obelheragoer. Sedangkan untuk Bruno Klofer, ada yang nulis Kohler.

Hafal karakteristik masing-masing kartu.

Jangan sampai kartunya kebalik. Saya jadi ingat ketika kuis Ro, saya malah menjawab ‘kartu kosong’. Hehehe, padahal kartu kosong kan di TAT!

Hafal juga pertanyaan-pertanyaan inquiry.

Jangan pakai perasaan menebak-nebak pertanyaan inquiry untuk determinan apa.

Seandainya ada remedial untuk mid test Ro ini, saya mendaftar!

1 Komentar »

Hukuman yang Menyenangkan

Selasa. 9.17 WIB. Kamar. Dihukum. Tersenyum. :)

Hai, semua. Apa kabarmu?

Apakah kamu pernah dihukum? *lirik kiri-kanan*

Pernah, kan? Hah? Nggak pernah? Ah, masa? Ngaku aja. Hehehe. Temans, aku dihukum. Atau, bahasa yang lebih tepatnya adalah menempa diri, mendisiplinkan diri. Dan hukuman itu menyenangkan sekali untukku. Hukumanku menulis. Hore, aku kembali menulis. Doakan aku agar segera menyelesaikan hukumanku, ya.

Oleh karena itu, untuk sementara waktu hingga aku selesai menunaikan hukumanku,

Close Facebook. Offline Yahoo Messenger. Good bye, WordPress.

5 Komentar »

Les Bahasa Inggris Bonus Les Memasak

Hai, semua! Apa kabarmu? Kabarku baik-baik saja. :P

Akhirnya saya kembali lagi setelah empat bulan tak nongol-nongol. Hehehe. Beberapa minggu belakangan ini daily activity saya bertambah satu. Les Bahasa Inggris. Conversation. Saya les bersama Lit, teman kuliah saya, dan Ibi, sepupu saya yang saya jerumuskan untuk ikutan les. Hehehe.

Lit dan saya memang sudah sedari lama ingin les bahasa inggris. Tapi tak juga kesampaian. Saya pun juga sudah mengancang-ancang untuk les bersama kak Ria, bang Adin, dan bang Dika. Tapi gagal karena banyak hal.

Hingga semangat saya pun kembali setelah menerima transferan semangat dari Lit. Hehe. Kami pun survei ke berbagai tempat les. Biaya, metode belajar, lama belajar, dan sebagainya. Setelah berkelana ke mana-mana, ujung-ujungnya ke tempat Pak Joko juga yang notabene dekat dari rumah saya. Hehehe.

Saya dan Lit pun akhirnya menyetujui untuk les di sana. Berhubung untuk masalah biaya rasanya terlalu besar untuk kami yang hanya berdua, saya pun melobi Ibi, sepupu saya, yang kuliah di Jakarta. Mumpung Ibi di Padang. saya jerumuskan dia ke jalan yang benar. Hehe. Ia pun akhirnya setuju dalam lobi melalui telepon selama 20 menit.

Memang, program yang kami ambil ini sangat singkat. Hanya sekitar 3 minggu. Gila, ya? Apa benar bisa bahasa Inggris selama 3 minggu? Saya pikir, everything is possible ya, kalau Pak Jokonya mencari cara cerdas mengajar anak tiga yang ‘agak-agak ele’ ini dan kami pun serius mengubah diri agar tidak menjadi ‘ele’ lagi plus practice. Ya, harus latihan dan belajar plusplus.

Kami les setiap hari setiap pukul 15.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Puasa-puasa gini. Kalau saya sih aman-aman aja bisa break the fast di rumah. Nah, Lit dan Ibi gimana? Lit rumahnya di Lubuk Alung. Kira-kira perjalanan dari tempat les ke rumah dia dengan menggunakan public transportation tuh kira-kira satu setengah jam. Kalau Ibi, rumahnya di Banuaran. Demi menuntu ilmu (ehem…), mereka pun rela bawa beverage dan sejenis kue-kue gitu dari rumah untuk break the fast on the way. Ahhahaha.

Les di bulan puasa, sensasinya memang mantab. Hehe. Jangan sampai kelas menjadi diam-sunyi-senyap. Berhati-hatilah. Pegang perutmu. Ingatkan dia supaya jangan berbunyi dulu. Hehehe. Memang sih, kejadian ini belum pernah terjadi di kelas kami.

Les di bulan puasa, tantangannya juga mantab. Bayangkan, ya. Di kelas, setiap contoh kalimat selalu ada hubungannnya dengan cook, food, dan fruit. Si bapak suka sekali dengan tiga hal tersebut. Yang ini tantangannya masih minim. Karena imajinasi masih bisa dikendalikan. Nah, yang paling-palingnya itu, ketika jam kedua, sekitar pukul 16.30 WIB, setelah shalat ashar. Nah, saatnya discuss.

Ketika diskusi-maota lamak dalam bahasa inggris, kami acap kali membicarakan masakan. Sesekali memang kami membahas pendidikan, pengalaman, internet, kasus ter-hot Indonesia-Malaysia, tempat wisata, dan lainnya. Tapi, ketika membicarakan masakan, kami selalu antusias. Si bapak selalu pandai mendeskripsikan masakan tersebut hingga kami pun mau tak mau berimajinasi juga. Hehehe. Yaiyala, si bapak kan pandai memasak dan banyak pesanan masak. Entah itu kue, masakan padang, dan masakan apa pun.

Dalam sehari, setidaknya kami diceritakan bagaimana membuat satu masakan biar enak. Bumbunya apa saja, takaran yang pasnya berapa, bagaimana membikin masakan itu sesehat mungkin, dan lainnya.  Seruseruseru. Les bahasa Inggris bonus les memasak. Tapi, puasa-puasa gini, di menit-menit terakhir untuk break the fast, kami membayangkan masakan enak sekali. Hehehe.

6 Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.