^Katakan dengan Kata^

it’s the freedom of me

Panik Mei 23, 2009

Diarsipkan di bawah: OPie belajar Psychology, dunia P'Mails — OPie ... @ 8:53 am

Emil kini senang tak terkira. Ia akan ke Jepang beberapa menit lagi untuk pertukaran pelajar itu. Ketika tiba di bAndara, tiba-tiba ia merasa dadanya ditekan. Napasnya sesak. Ingin pingsan saja, katanya. Emil panic. Tiba-tiba diurungkannya niatnya untuk bepergian dengan pesawat terbang itu. Bertanya-tanya Emil pada temannya, apakah ia sedang mengalami serangan panic atau tidak.

Dijawabnya oleh temannya. Serangan panic merupakan perasaan teror yang datang menyerang secara tiba-tiba tanpa peringatan. Istilah “panik” berasal dari kata Pan, dewa Yunani yang setengah hantu, tinggal di pegunungan dan hutan, dan perilakunya sangat sulit diduga. Gangguan panik biasanya timbul pada usia muda dan dewasa (pertengahan 30an). Panik ini dapat juga timbul pada usia muda dan usia lanjut. Panik sebenarnya adalah kondisi alami pada setiap orang. Panik dalam hal ringan, yang datang sesekali, adalah hal biasa. Yang perlu diwaspadai adalah jika cemas atau panic datang berulang-ulang dalam kadar tinggi hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika ini terjadi, sebaiknya kita memperhatikan kondisi fisik kita. Tak jarang muncul rasa mual, pusing, diare, tubuh gemetar, daya penglihatan dan konsentrasi menurun.  Pada serangan yang hebat, penderita merasa seperti tercekik atau jiwanya keluar dari tubuh sehingga ia sering takut jangan-jangan menjadi gila atau mau mati.

Serangan panik dapat terjadi kapan saja bahkan waktu tidur sekalipun. Umumnya serangan akan memuncak dalam waktu 10 menit, namun beberapa gejala akan berlangsung lebih lama. Individu yang mengalami serangan panik berusaha untuk melarikan diri dari keadaan yang tidak pernah diprediksi. Gangguan panik merupakan gangguan dengan sedikitnya ada tiga serangan dalam waktu tiga minggu. Pada saat itu penderita tidak dalam gangguan fisik yang berat, dan tidak pula dalam situasi yang mengancam kehidupanya. Serangan ini dapat terjadi di mana saja.

KENAPA PANIK MUNCUL?

Banyak factor yang menyebabkan munculnya serangan panic, baik factor fisik maupun psikis. Seseorang dapat mengalami kepanikan karena ia mempersepsikan sesuatu secara berlebihan. Padahal, situasi ia alami belum tentu seseram yang ada di kepalanya. Bagi teman-teman yang senang berimajinasi secara berlebihan, berhati-hati pula. Mereka yang senang berimajinasi berlebihan, perfeksionis atau kaku, biasanya lebih rentan terserang panic.

Factor-faktor genetis dan kesehatan fisik ternyata juga ikut berperan. Teman-teman yang punya riwayat serangan panic dalam keluarga, berkemungkinan mengalami serangan panic pula. Pada mereka ini, serangan panic bisa muncul tiba-tiba, meskipun kondisi fisik baru sedikit menurun. Banyak hal lain yang memicu munculnya panic. Mungkin saja, kehilangan orang yang dicintai, pemutusan hubungan kerja, perceraian, dan lain sebagainya.

WASPADAI SERANGAN PANIK

Gejala serangan panic ini memang mirip dengan gelaja serangan jantung. Hal ini membuat orang-orang biasa berdatangan ke Unit Gawat Darurat atau dokter spesialis jantung/ oenyakit dalam. Di bawah ini dituliskan gejala-gejala serangan panik yang biasa terdapat pada orang yang mengalami serangan panik. Bila ia mengalami 5 dari gejala ini yang berlangsung tiba-tiba dan berlangsung lebih kurang 10 menit, maka dia dapat dikatakan mengalami serangan panik.
1. Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung
2. Berkeringat
3. Badan terasa gemetar atau berguncang
4. Perasaan napas yang pendek
5. Perasaan seperti tercekik
6. Sakit dada atau perasaan tidak nyaman
7. Mual atau merasa tidak enak di perut
8. Merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan atau pingsan
9. Perasaan tidak nyata, merasa diri dan lingkungan seperti asing
10. Takut kehilangan kontrol atau menjadi gila
11. Takut mati
12. Kesemutan atau seperti baal
13. Rasa seperti terbakar atau kepanasan

ATASI PANIK

Jika Anda mengalami gejala tersebut sering dan disertai gangguan fungsi pribadi dan sosial, Anda seharusnya segera berobat ke dokter kesehatan jiwa. Dokter kesehatan jiwa pertama kali akan menyingkirkan terlebih dahulu adanya kemungkinan diagnosis penyakit jantung atau penyakit yang dapat memberikan gejala-gejala mirip seperti serangan panik seperti gangguan tiroid (gondok). Bila semua sudah disingkirkan maka diagnosis gangguan panik dapat ditegakkan.
Pengobatan gangguan panik meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Biasanya pasien akan mendapatkan obat dalam jangka waktu tertentu (minimal 3 bulan) sambil terus dilatih agar bila serangan paniknya datang, pasien dapat mengatasinya. Pasien gangguan panik biasanya juga mempunyai latar belakang masalah psikologis yang nyata sehingga dokter kesehatan jiwa akan berusaha membantu pasine mengatasi hal tersebut.
Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter kesehatan jiwa bila mengalami gangguan panik.

Menurut medikaholistik,com, ada beberapa latihan yang dapat membantu Anda untuk mengatasi serangan panik. Kita perlu untuk hidup teratur. Panik ini bisa saja muncul setelah kita mengalami kelelahan berlebihan. Nah, tidur yang cukup dan membuat jadwal mingguan akan membuat kita mampu membagi waktu dengan benar.

Selain itu, Anda harus mengamati sendiri bila gejala serangan panik mulai timbul. Misalnya saja Anda dapat membawa secarik kertas yang bertuliskan PERHATIAN ! ataupun yang diberi warna kuning atau merah. Kemudian setelah Anda mengetahui bahwa Anda akan mengalami serangan panik Anda dapat melakukan pernafasan perut atau teknik relaksasi . Sebenarnya, teknik ini merupakan teknik pengalihan pikiran yang dapat berupa : menonton film kartun, membaca novel, membaca kata-kata dengan huruf terbalik, mengunyah permen karet, melihat benda-benda sekitar, mendekatkan dua jari sedekat mungkin berulang-ulang.

(MaghrizaNovita Syahti/P’Mails edisi 17 Mei 2009, berbagai sumber)

 

Mengunjungi Lokasi Bencana April 17, 2009

Diarsipkan di bawah: school news, sebuah catatan harian — OPie ... @ 6:41 am

Akhirnya, hari ini berkesempatan ke sana. Ini kali ketiga teman-teman Psikologi UNP ke lokasi bencana itu setelah Selasa dan Sabtu lalu. Pukul 9 pagi, aku dan tiga belas orang teman lainnya (2006, 2007, 2008) berangkat dari kampus menuju terminal Aur Kuning. Mencari bus ke Batusangkar yang berangkat cepat, tanpa menunggu. Mengkhawatirkan pelajar Sekolah Dasar (karena kami bertujuan ke SD di sana) itu pulang. Lagi-lagi anak-anak. Hehehe. Setelah minggu lalu berhadapan dengan balita di Posyandu Double Care, kini dengan anak SD. Sempat pula menunggu agak lima belas menit. Akhirnya, kami berangkat menuju Batusangkar. Perjalanan yang lebih kurang satu jam itu dimulai. Mini bus itu agak sesak. Dingin, polusi, membikin eneg. Kami diantar langsung ke Pasie Laweh, tempat lokasi bencana. Berhenti di depan SD 03 Pasie Laweh itu. Sesampai di sana, anak-anak SD itu sedang beristirahat. Berlari ke sana kemari. Bermain bermacam-macam. Berlari pula ke luar pekarangan sekolah. Jajan. Aku dan teman-teman menunggu di ruang guru. Berbincang-bincang dengan Kepala Sekolah, Bapak Nusyirwan, dan beberapa orang guru sembari mempersiapkan segala sesuatunya. Di sekolah dasar ini, sebagai mahasiswa psikologi, kami hanya memberikan games-games kepada mereka agar (setidaknya) terobati trauma-trauma dan rasa takut mereka. Aku bersama Wiwit mendapatkan tugas di kelas dua. Kami pun sudah siap dengan beberapa permainan, seperti bola, kertas, pensil, penghapus, tali, balon, dan lain sebagainya. Seperti biasa, kami pun memperkenalkan diri dan mengisi waktu untuk mencairkan suasana. Dua puluh delapan anak yang duduk di kelas dua itu; 9 laki-laki dan 19 perempuan. Perbedaan yang mencolok sekali. Yang laki-laki memang tampak lebih conform, tetapi cukup destruktif. Sedangkan yang perempuan, lebih adem-ayem, mengangguk dan menggeleng saja. Sempat terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tekolah) di sana. Hehheheehe. Untungnya bisa diatasi. Kami menggambar, menyanyi, dan melipat kertas. Ketika kami membagikan kertas untuk menggambar, mereka tampak tak sabar ingin menorehkan coretan pensil mereka di sana. Bermacam-macam digambarnya. Tetapi, seperti biasa, gambar favorit mereka adalah dua gunung dengan matahari di sela-selanya. Lalu, ada jalan panjang lurus atau pun berbelok. Rumah kecil dan kolam. Ada pula yang menggambar gunting karena ada gunting di atas mejanya. Yang agak berbeda, ada yang menggambar roket, kelinci, dan kapal. Bagus, meskipun hanya menggunakan pensil, tanpa warna. Aku bangga dengan keberanian dan percaya diri mereka. Ketika diminta menyanyi, lima orang rebutan untuk ke depan. Menggeleng-geleng aku dan Wiwit mendengar lagu yang mereka nyanyikan. Kangen Band. Hehehe. Setelah bermain di dalam kelas, kami pun keluar kelas. Bermacam pula permainan di luar itu.

Meskipun panas agak terik, semangat mereka tak memudar. Gelak tawa mereka masih terdengar gaungnya. Sorakan mereka menambah semangat. Senyuman indah mereka seakan menyiratkan bahwa mereka ingin melupakan kenyataan sejenak. Hingga pukul dua belas kami berkesempatan bersama mereka, hingga waktunya mereka pulang sekolah. Sempat pula berbincang dengan guru-guru sebelum pulang. Salah seorang guru bilang, mereka harus memaklumi permohonan orangtua. Orangtua tak melepas anaknya untuk ke sekolah jika hari hujan. Takut ada air besar lagi. Jadi, kalau hujan, sekolah sepi mendadak. Setelah dari SD, kami menuju lokasi bencana yang tak jauh dari sana. Shalat Zuhur di Masjid Babussalam yang kokoh berdiri tanpa diganggu sedikit pun.

 

DEMENSIA: BOLEH TUA, ASAL JANGAN PIKUN April 13, 2009

Diarsipkan di bawah: OPie belajar Psychology, dunia P'Mails — OPie ... @ 10:47 am

Semakin bertambahnya tahun, semakin bertambah pula orang yang didiagnosis menderita penyakit Demensia. Jika diartikan, menurut buku Gaya Hidup Penghambat Alzheimer, demensia merupakan himpunan gejala penurunan fungsi intelektual, umumnya ditandai terganggunya minimal tiga fungsi, yaitu bahasa, memori visuospasial, dan emosional. Jadi, demensia bukan suatu penyakit, tetapi kumpulan gejala-gejala yang menyertai berbagai penyakit. Menurut buku ini, terdapat 70 penyakit atau keadaan yang menyebabkan demensia.
Penuaan ternyata tidak hanya untuk kulit, tetapi juga untuk otak. Demensia juga disebut sebagai proses penuaan pada otak. Secara structural, semakin sedikit hubungan antar sel yang dibuat otak, sebagai akibat dari berkurangnya fungsi otak, juga potensi ingatan tidak didukung pelatihan, pemakaian, serta asupan gizi, ternyata semakin beresiko menderita penurunan. Zat kimia dalam otak akan menurun hingga membuat volume otak mengecil dan rongga-rongga dalam otak menjadi lebar.
PENYEBAB DEMENSIA
Beberapa bagian otak yang tugasnya terkait dengan ingatan– prefrontal cortex untuk mengingat hal-hal yang sudah lama dan hippocampus untuk hal-hal baru yang ingin diingat – akan kehilangan kira-kira 20 persen sel-sel syarafnya seiring dengan bertambahnya usia. Demensia atau berkurangnya fungsi-fungsi kognitif dan perilaku akibat hal-hal fisiologis, akhirnya menjadi penyakit yang populer di usia lanjut dan menjadi ‘gerbang’ bagi penyakit-penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson.
Banyak hal yang menyebabkan demensia ini. Demensia dapat disebabkan oleh cedera kepala, infeksi otak, keracunan, kekurangan zat nutrisi, serta stroke yang meluas, tumor otak, dan lainnya. Bisa pula disebabkan oleh gizi buruk, gangguan system saraf, penggunaan narkotika, alcohol, kecemasan atau depresi, dan pelepasan kortisol berlebihan akibat stress.
Beberapa hal tidak terlalu serius turut berperan dalam menyebabkan demensia, tetapi perlu diwaspadai. Seperti, di bawah pengaruh narkotika dan alcohol, diburu waktu, ketakutan, kurang perhatian, lelah fisik dan mental, merasa bingung, marah, dan tertekan, perhatian terganggu, terlalu banyak bekerja, dan terlalu tegang.
PROSES PENUAAN OTAK

Proses penuaan membikin kemunduran kemampuan otak. Kemampuan yang mundur biasanya adalah daya ingat dan inteligensi dasar. Kemunduran daya ingat ini berupa penuruan kemampuan penamaan dan proses mencari kembali informasi yang telah tersimpan di dalam memori. Jadi, memori harus tetap eksis. Caranya tak sulit, kok. Pokoknya, jangan pernah membiarkan otak menganggur. Membaca, mendengar berita, atau cerita dari berbagai media cukup membantu dalam mencegah pengangguran otak. Namun, kalau ingin otakmu menganggur, caranya juga tak sulit. Tinggal ongkang-ongkang kaki sambil merenungi nasib yang tak kunjung berubah. Tapi, konsekuensinya, kamu akan mengalami penurunan daya ingat dalam waktu dekat. Pilih yang mana?
Sedangkan, inteligensi dasar merupakan penurunan fungsi otak bagian kanan, berupa kesulitan dalam komunikasi non verbal. Misalnya, pemecahan masalah, mengenal wajah orang, kesulitan dalam pemusatan perhatian dan konsentrasi. Tak ingin seperti itu, kan? Mencegahnya juga gampang, kok. Cukup dengan mempertahankan proses belajar, meskipun sudah lansia. Bagi lansia, caranya tentu tak harus mengulang pelajaran-pelajaran di sekolah dulu. Tapi, perlu mengasah otak. Misalnya, dengan memecahkan masalah sederhana, mengenal tulisan, symbol, dan angka, serta tetap menggerakkan anggota tubuh secara wajar.
Nah, penuaan otak ini menyebabkan lupa, maka banyak pula jenis lupanya. Pertama, lupa wajar karena factor usia. Jenis lupa ini biasanya butuh waktu yang lama untuk menjawab dengan akurat jika ditanyakan sesuatu. Lupa ini tidak semakin memburuk dari waktu ke waktu. Ada pula lupa karena gejala gangguan kognisi ringan (pra pikun). Orang-orang yang lupa seperti ini mandiri dalam kesehariannya, tidak mengalami gangguan fungsi social dan pekerjaan. Lupa jenis ini mengalami penuruan fungsi memori jangka pendek. Hingga mereka kerap membuat keputusan berulang-ulang yang isinya sama. Jenis lupa berikutnya adalah gejala dini demensia (pikun). Banyak kemuduran yang terjadi pada demensia, seperti bahasa, memori, pengenalan ruang dan tempat. Hal itu membuat fungsi social dan pekerjaannya terganggu. Makanya, demensia bukanlah lupa biasa.
GEJALA DEMENSIA
Penderita demensia mengalami hilang ingatan baru-baru ini, bukan sekedar lupa. Kadang juga lupa kata-kata atau bahasa yang tepat. Mungkin pula, penderita demensia ini mengalami perasaan yang berubah-ubah (moody), mendadak tak berminat melakukan aktivitas. Parahnya lagi, mereka tak ingat lagi jalan pulang ke rumah, bahkan lupa bagaimana caranya melakukan tugas sehari-hari.
Contoh yang dekat dengan keseharian kita misalnya, sulit menghitung uang kembalian, sulit melakukan hal-hal biasa yang dilakukan sehari-hari (mandi, menelepon, mengancingkan baju), serta lebih banyak menyendiri.
SELAMATKAN OTAK, CEGAH DEMENSIA
Agar tidak terkena demensia di usia lanjut nanti, kita harus menyelamatkan otak mulai sekarang untuk mencegahnya. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah gaya hidup. Mereka yang kurang tidur, jam tidurnya tak beraturan, biasanya mudah terkena penyakit lupa. Begitu pula dengan fast food, yang bisa mengakibatkan pembuluh darah kaku dan menebal hingga aliran darah ke otak itu berkurang. Pola makan juga harus diperhatikan agar sehat dan bergizi. Pilihlah makanan-makanan yang baik untuk otak, seperti ikan, daging, ayam, susu, sayuran hijau, kacang-kacangan, jeruk, teh hijau, dan lainnya. Konsumsi pula hidangan penguat daya ingat setiap hari, seperti makanan yang mengandung vitamin E, B6, B12.
Ternyata, jus sayur dan buah juga menyelamatkan otak, loh! Misalnya, jus anggur mencegah penuaan otak, pisang memenuhi kebutuhan vitamin B6, jus apel juga bagus untuk pikiran kita. Sayuran tak kalah penting. Makan banyak sayuran membantu menyelamatkan ingatan dan perhatian di usia lanjut.
Melatih otak, penting sekali. Mereka yang beringatan kuat senang sekali bermain teka-teki silang, membaca, bermain bridge, dan lain-lain. Jangan lupa untuk mengaktifkan otak kiri dan kanan secara bersamaan. Misalnya, dengan melakukan gerakan menyilang atau mencoba melatih kesabaran dengan menulis menggunakan tangan kiri.
Menangkal kepikunan bisa juga dengan berpikiran positif, rasional, rileks, dan berinteraksi dengan banyak orang. Hindari pikiran negative, emosional, karena pikiran seperti itu dapat menimbulkan distress (stress yang buruk). Happy dan gaul, kuncinya. Melestarikan hobby, boleh juga tuh! Misalnya, berkaraoke, berkebun, berolahraga, membaca, dan hal seru lainnya.
Jangan lupa untuk menjaga kesehatan otak. Memberikan oksigen yang cukup, menjaga tekanan darah agar tetap normal, hindari kebiasaan tidak sehat (misal, merokok), mencoba aromaterapi, dan meditasi merupakan beberapa hal yang bisa kita lakukan agar otak tetap sehat.
Proses penuaan memang tidak dapat dihambat. Kita perlu menyadari bahwa berat otak akan berkurang seiring bertambahnya usia. Tetapi, paling tidak kita mampu menghadapinya dengan sehat. (Maghriza Novita Syahti/ berbagai sumber)

 

Si Budi yang Hiperaktif Februari 16, 2009

Diarsipkan di bawah: OPie belajar Psychology — OPie ... @ 9:40 am

Ketika Budi genap dua bulan bersekolah di SD, Ibu dipanggil oleh guru Budi ke sekolah. Ibu guru bilang, Budi sering bergerak hingga teman-temannya tak konsentrasi belajar. Ia berkeliling kelas, mengajak temannya mengobrol. Budi jarang duduk tenang. Ia tampak gelisah. Ibu guru sudah memberinya sanksi berulang kali atas semua tindakan buruknya. Terakhir, Budi memanjat pagar belakang sekolah dan tak bisa turun.
Ibu Budi sedikit curhat pula pada guru. Budi memang bermasalah sedari ia berusia 4 tahun. Ia banyak menuntut, gelisah. Kerap kali ia tidur larut dan bangun sebelum yang lain terbangun. Kemudian, berlari dari ruangan yang satu ke ruangan lainnya dan mengacak-acak benda-benda. Pernah ketika bangun tidur ia langsung membuka pintu, lalu pagar, hingga sampai di jalan raya. Untung saja, kakeknya yang kembali dari masjid setelah shalat subuh menyelamatkan Budi dan membawanya kembali ke rumah. Ibu Budi juga bercerita bahwa Budi pernah dites kemampuan akademiknya. Hasilnya rata-rata. Tapi, Budi sama sekali tak punya rentang perhatian. Ia tak suka televisi. Tak suka permainan yang membutuhkan konsentrasi. Lebih suka bermain sepeda sendiri ketimbang bersama teman-temannya.
Sepulang dari sekolah Budi, Ibu mencari-cari bahan bacaan tentang perilaku anaknya. Ibu membaca beberapa buku dan artikel. Ternyata, Budi ini mengalami Attention-Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD). Lebih populer dengan nama hiperaktif. ADHD ini merupakan gangguan perilaku yang ditandai oleh aktivitas motorik yang berlebihan dan ketidakmampuan untuk memfokuskan perhatian. Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.
Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Tangan atau kakinya bergerak, menggeliat-geliat di kursi, berlarian atau memanjat, atau meninggalkan kursinya ketika situasi belajar sedang tenang. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik. Sedangkan, gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Ia tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antre. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.Ketiga gangguan tersebut sudah menetap minimal 6 bulan dan terjadi sebelum anak berusia 7 tahun. Gejala-gejala tersebut muncul setidaknya dalam 2 situasi, misalnya di rumah dan di sekolah.
Meskipun anak-anak ADHD mempunyai inteligensi rata-rata atau di atas rata-rata, mereka cenderung berprestasi di bawah potensinya, Mereka gagal mengingat instruksi dan menyelesaikan tugas. Mereka lebih sering mengalami luka fisik dan mengalami gangguan mood, masalah dalam hubungan dengan anggota keluarga, dan kecemasan. Anak-anak ADHD tak populer di kalangan teman-temannya karena mereka kurang berempati atau kurang sadar akan perasaan orang lain. Walaupun gangguan ini cenderung berkurang seiring dengan bertambahnya usia, tetapi sering menetap hingga masa remaja dan dewasa dalam bentuk yang lebih ringan.

KENAPA HIPERAKTIF?

Para peneliti menyebut pengaruh faktor biologis, lingkungan, dan interaksi genetis-lingkungan tentang ADHD ini. Dari segi biologis, para peneliti menemukan bagian-bagian otak yang mempengaruhi. Contohnya, kurang aktifnya otak bagian depan dari korteks otak besar, yaitu bagian otak yang bertugas untuk menghambat impuls-impuls dan mengontrol diri. Terjadinya perkembangan otak yang lambat, disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi  Terjadi pula abnormalitas ringan di area otak yang mengatur perhatian, kontrol gerakan, dan komunikasi antara hemisfer kanan dan kiri. Tidak teraturnya jalur saraf pada otak yang menggunakan neourotransmiter serotonin rupanya juga membantu menjelaskan komponen impulsivitas dan hiperaktivitas dari ADHD.
Masalah-masalah prenatal juga membawa dampak. Misalnya, proses persalinan yang lama, distres  pada ibu hamil, dan sebagainya. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok, dan minum alkohol juga memungkinkan perilaku hiperaktif pada anak. Para peneliti juga mendapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
Selain itu, faktor lingkungan juga berpengaruh, Misalnya, terjadinya konflik dalam keluarga dan kurang baiknya pengasuhan orangtua dalam menangani gangguan tingkah laku anak.

MENGATASI PERILAKU HIPERAKTIF PADA ANAK

Ibu Budi agak bingung juga bagaimana mengatasi tingkah laku Budi yang seperti itu. Ia ingat, ia mempunyai teman seorang psikolog anak. Diraihnya gagang telepon, kemudian ditekannya tombol nomor-nomor itu. Tampaknya tak sabar ia untuk bertanya.
Pembicaraan panjang di telepon itu memberikan titik cerah bagi Ibu Budi. Kini, ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk Budi.
1.    Orangtua harus mencari tahu segala informasi tentang gangguan hiperaktivitas. Misalnya, dengan mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi.
2.    Berikan ia rasa percaya diri. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Bisa juga dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya. Usahakan emosi Anda tetap stabil agar anak tahu bahwa penguatan positif itu tidak datang atas kendali amarah.
3.    Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, terimalah keterbatasannya. Tak lupa untuk konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Ketika anak tak bisa diam, sebaiknya jangan memarahinya. Tak ada salahnya untuk mengajaknya untuk duduk diam dengan tutur bahasa yang halus dan lembut sembari memegang kedua tangannya. Coba berikan ia pengertian ketika Anda memintanya melakukan sesuatu. Hingga ia memahami kenapa Anda berharap ia melakukan hal tersebut.
4.    Anak hiperaktif memang cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada salahnya untuk  membantu anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya, melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan.
5.    Kenali kelebihan dan bakat anak. Jika dia bergerak terus menerus, jangan panik, ikutkan saja, dan pahami apa sebenarnya tujuan dari keaktifannyaa. Sebaiknya, tak ada larangan karena bisa menyebabkan anak frustasi. Hal terpenting yang harus diketahui orangtua adalah minat dan bakatnya. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur agar ia bisa belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.
6.    Ketika ia mengungkapkan keinginan yang ada dalam pikirannya, Anda dapat membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Sebaiknya, juga melibatkan guru untuk memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akanberdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.
7.    Sebaiknya, orangtua dan anggota keluarga lainnya memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual), maupun fisiologis.

(Maghriza Novita Syahti/ Padang Ekspres Edisi Minggu, 15 Februari 2009, hal. Langkan)

Daftar Bacaan:

http://e-psikologi.com

http://BalitaCerdas.Com

Nevid, Jeffrey, dkk. 2002. Psikologi Abnormal Edisi Kelima Jilid 2.Jakarta: Erlangga

 

Menjadi Nenek Ideal Februari 8, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — OPie ... @ 4:21 am

plb_kunjungan-panti-jompo1

Setelah usai pengajian, Ibu Nani disalami banyak ibu-ibu sembari mengucapkan selamat. Memang, dua hari yang lalu Ibu Nani resmi menjadi seorang nenek. Anak sulungnya telah melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. “Cucu ke berapa, Bu?” tanya Ibu Ros. “Ini cucu pertama, Bu” jawab Ibu Nani. Obrolan itu pun berlanjut. Semakin seru tampaknya. Semakin banyak pula ibu-ibu yang ikut obrolan nenek-nenek itu. Ibu Nani sempat mengutarakan perasaannya menjadi ‘nenek baru’. Senangnya tak terkira, semakin sibuk pula. Ia pun bertanya pada teman-temannya, “Bagaimana ya menjadi nenek yang baik itu? Saya ingin menjadikan masa tua ini lebih indah.”

Ibu Ros, yang kebetulan sudah dianugerahi lima orang cucu, angkat bicara. Semuanya tampak serius mendengarkan penjelasan Ibu Ros. Ibu Ros bilang, memang tak mudah berperan sebagai seorang nenek. Ada di antara kita yang sudah siap, ada pula yang tidak. Kita semua berharap menjalani hari tua dengan nyaman, tenteram. Ingin rasanya beristirahat panjang setelah mengantarkan anak-anak ke gerbang masa depannya. Kemudian, menjalani hari-hari tua dengan lapang, tenang, dan bahagia.

Pertama, tetaplah menjaga kesehatan. Kesehatan yang diberikan sedari muda harus dijaga baik-baik. Kalau pun harus sakit, itu hanya penyakit ketuaan yang memang alami, yang tak bisa ditolak siapa pun. Namun, kemajuan ilmu sekarang memungkinkan untuk penyakit menua itu tidak cepat memburuk. Sedari muda harus dipersiapkan. Misalnya, dengan hidup teratur, cukup tidur, menu harian yang bergizi, dan lain sebagainya.

Ibu Ros juga mengajak teman-temannya untuk selalu berpikir positif, tidak memelihara perasaan dengki, iri hati, benci, dan hal-hal negatif lainnya. Dengan begitu, anak cucu, saudara-saudara, dan kerabat akan mengenang nilai-nilai kebaikan itu dan merindukan keberadaan kita. Nenek juga bisa jadi partner yang ideal untuk mendidik anak-anak. Toh, sudah terbukti hasilnya dengan membesarkan dan mendidik anak-anaknya, lebih pengalaman pula.

Meskipun sudah tak muda lagi, pengetahuan dan wawasan tetap menjadi hal penting. Nenek yang pintar membikin cucunya bangga dan memotivasinya untuk berwawasan pula. Pengetahun dan wawasan tersebut dapat menjadi bekal dan bermanfaat. Dapat pula membantu kita menjalankan peran sebagai istri, ibu, dan nenek. Pendidikan ini juga menentukan derajat kesehatan. Perempuan yang lebih menguasai pengetahuan tentang hidup sehat, akan lebih sehat secara fisik maupun psikologis.

Ibu Ros mengaku, salah satu alasannya mengikuti pengajian ini adalah untuk menciptakan kesibukan. Tak sedikit yang bosan dalam menjalani hari tuanya. Untuk itu, kita memerlukan sesuattu yang baru, yang menyenangkan hati, dan menambah gairah hidup setiap hari. Tak harus di rumah saja, tak ada kegiatan, tak ada jadwal kesibukan. Seorang nenek juga perlu kegiatan yang bervariasi untuk melihat dunia luar. Selain ikut pengajian, mungkin juga ikut kegiatan sosial sehingga kita merasa berguna bagi orang lain, diterima oleh orang lain, dan juga dapat bersosialisasi.

Nenek yang ideal di mata keluarga adalah nenek yang pandai membawakan diri jika hidup bercampur dengan keluarga anak menantu. Tak lagi mendominasi seperti ketika masih menjadi istri dan ibu. Mungkin saja, membikin menantu tidak enak. Nenek yang tulus menjalani hidup masa tuanya tanpa mau mengganggu siapa pun, misalnya tidak sakit. Makanya, kita perlu berpikir cerdas, menyiasati bagaimana seharusnya hidup sehat dan nyaman. Contohnya lagi, menjadi nenek yang arif dan bijaksana, serta menjadi penengah jika ada perselisihan antara anak-anak dan ayah ibunya. Bisa saja nenek memberikan wejangan yang positif sehingga hubungan mereka harmonis kembali.

Nenek adalah tempat mengadu cucu-cucunya untuk menceritakan aturan-aturan yang berlaku di rumah orangtuanya. Dari sudut pandang anak-anak, nenek merupakan sosok ideal yang memberikan kecintaan tanpa batas dan tanpa syarat pada mereka. Cucu-cucu biasanya akan merasa lebih nyaman jika berada di rumah neneknya. Peran nenek akan semakin berpengaruh jika banyak menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya.

Sesekali, tak ada salahnya pergi ke berjalan-jalan. Mencari suasana baru dan melupakan sejenak rutinitasn yang biasa kita lakukan. Misalnya, ke daerah pedesaan yang udaranya lebih segar, dan bersih, sesuai dengan paru-paru orang usia lanjut. Udara yang segar dan bersih juga kaya dengan kandungan oksigen dan menambah kebugaran sel-sel tubuh. (disarikan dari buku Cara Sehat Menjadi Perempuan/ Maghriza Novita Syahti)

*Padang Ekspres edisi Minggu, 8 Februari 2009, hal. Langkan